Rss

Jumat, 08 Juni 2012

BEAUTY HOLLIC

on Tuesday, January 25, 2011 at 4:19am ·

“Live, cewek itu cantik banget, ya?“ Cowok di depan Olivia menunjuk ke arah seorang wanita bertubuh semampai dengan rambut kecoklatan hingga sepinggulnya. Gadis di depannya otomatis menatap wanita yang dimaksud, seketika hatinya terasa sakit.
“Cantik sih, tapi belum tentu hatinya, khan?. Lagian belum tentu dia mau ma lo hahaha. Emang lo cakep?” Olivia tertawa keras hingga membuat orang-orang yang berada di taman kota tersebut menoleh ke dirinya. Begitulah Olivia… dia tak pernah mengenal malu, dia mengatakan apa yang ia pikirkan tanpa pernah berfikir untuk berpura-pura menjadi orang lain. Hal itulah yang disukai Samm, sahabat gadis itu, seperti apapun dirinya-Olive tak pernah mengeluh dalam hidupnya.
Seketika tangan Samm memporak porandakan rambut pendek Olive, dan seperti biasa reaksi gadis itu seperti anak kecil. Berpura-pura marah dan menonjok perut Samm. Dan kemudian… mereka tertawa bersama. Samm dan Olive telah bersahabat sejak mereka di bangku SD. Mereka sudah cocok karena sifat Olive yang tomboy. Ketika memasuki bangku SMP, Olive tak pernah malu bersama Samm ketika para cewek-cewek di sekolahnya tak menyukainya. Hingga tanpa sadar mereka telah memasuki bangku SMU. Tak ada yang berubah. Hanya Olivia yang sampai saat ini belum mempunyai Pacar. Tak seperti Samm yang selalu gonta ganti kekasih. Suatu hari, Samm pernah menanyakan perihal Cinta pada Olive ketika Ultahnya Olive yang ke-17.
“Live, masa’ udah umur 17 tahun Lo gak dapae-dapet cowok, sih? Malu-maluin banget tau, nggak? Hahahaha!. Hidup jadi membosankan tanpa ngerasain pacaran dan lain-lain. Apa sih yang elo inginin?... bilang ma Gue. Gue wujudin dah!!”
Olive tersiam lama sekali, dan tiba-tiba Samm melihat ada yang berbeda dalam kedua bola mata sipit Olive.
“Gue pengen berubah, gue pengen kaya cewek-cewek lainnya. Ngerasain disukai… dan seperti yang lo bilang”
“lo-nya aja yang gak mau berubah, tapi… be yourself, Live. Gak semua yang indah di mata lo-indah juga menurut orang lain. But… do what do you want… don’t never afraid about everything”



Samm melihat cewek agak gemuk di depannya dengan aneh. Tak biasanya Olive tampak pucat seperti itu, ia juga lebih diam-benar benar bertolak belakang dengan Olive yang selama ini Ia kenal.
“Live, lo sakit, ya?. Kok gak kaya’ biasanya?” kejar Samm di koridor sekolah setelah berjam-jam di kelas Ia memperhatikan keanehan Olive.
Olive memandang dingin pada kedua mata indah Samm.
“Gue gak papa, gua Cuma kecapean aja. Gue pulang dulu, ya?... tolong bilangin ma Netta gue gak bisa rapat sekarang. Ada urusan!! Thanks” kemudian secepat kilat ia meninggalkan Samm yang masih memetung di sana. Akhirnya Samm hanya bisa pasrah dengan keadaan yang tak biasa ini.
“Lo gak pernah keliatan bareng Samm lagi, Live. Lo tengkar ma dia?... cerita aja… siapa tau kita bisa Bantu. Gak baik lho masalah dipendam sendiri terus. Ntar lo bisa stress… stress bisa menyebabkan frustasi dan mengalami gangguan jiwa. Gue gak mau temen gue yang satu ini masuk Rumah Sakit Jiwa. Lo khandh tau gue sibuk, ntar gue gak sempet jengukin elo di RSJ”. Netta berusaha menghibut Olive. Biasanya Olive yang paling gokil di antara mereka semua. Karena itu saat nggak ada tingkah konyol dari Olive lagi membuat perasaan sahabat-sahabatnya itu nggak enak.
“haha , bisa aja, lo!!. Sebenernya gue pengen cerita kalo gue… sebenernya gue gak mau cerita ke siapapun. Biar aja gue simpen… toh kalaupun gue cerita gak bakal ngerubah apapun. So…” tiba-tiba air mata menghiasi wajah Chubby-nya. Teman-temannya serentak menenangkannya.
“ini ada hubungannya dengan Samm, khandh? Kalo lo gak mau cerita ya udah gak papa. Tapi… jangan pernah negative thinking dulu Live, kalo elo belom mencobanya” netta menjadi sok bijak saat ini. Cindypun tersenyum dalam hati melihat tingkah sok dewasa Netta.
“Gue suka ma Samm, udah lama. Tapi dia gak nyadarin selama ini”.
Pengakuan Olive membuat Netta dan Cindy kaget, mereka nggak pernah menyangka Olive ada rasa dengan Samm. Karena ia tidak pernah menunjukkannya.
“serius, lo?. Kalo gitu lo ungkapin ke dia aja tentang semua ini. Siapa tahu dia ngerti. Gue perhatiin Samm nggak pernah serius ma satu cewek, jadi ada kemungkinan bahwa dia bakal menyayangi elo seperti yang lo rasain ke dia. Kita bakal dukung lo, Live”
“nggak!! Gue bukan cewek tipe dia!!. Gue nggak cantik… gue nggak seksi. Gue nggak pantes buat dia”. Olive kemudian berdiri dan meninggalkan Netta dan Cindy yang belum mengucapkan sepatah katapun. Ia mengendarai mobilnya kencang dengan perasaan berkecamuk. Tiba-tiba sebuah truk menabrak sisi mobilnya hingga membuat mobilnya kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke semak-semak. Beruntung tubuhnya terlempar meskipun dengan luka parah karena jika ia masih berada di dalam mobil, ia pasti akan ikut jatuh ke jurang dengan kobaran api yang membumbung ke angkasa.
Semua gelap, Olivia seakan bangun dari mimpi ketika ia melihat bilik-bilik bambu. Ia merasa asing dengan ruangan itu. Dan ia merasakan rasa perih yang amat sangat… tubuhnya lemas. Ia menangis tapi tak ada suara yang keluar.
“Nak, sudah sadar?” seorang Ibu tua menidurkannya kembali ke kasur. Olivia tak mengenali Ibu-Ibu itu. Olivia sama sekali tak mengingat apa yang terjadi pada dirinya.
“kamu kecelakaan mobil, penduduk sama sekali tak menemukan identitas tentang kamu. Tapi kita sudah memberitahukan ke pihak yang berwajib… dua minggu kamu koma, Nak. Tapi syukurlah kamu selamat”. Ibu itu mengelus kening Olive yang diperban. Akhirnya ia ingat sekarang… pulang dari Caffe ia ngobrol dengan Netta dan Cindy-sebuah truk menabrak mobilnya. Dirinya terguncang… banyak pikiran yang melintasi kepalanya. Ibu tersebut seakan mengerti dan ia segera mengambil segelas air putih dan meminumkan ke Olive. Perasaan olive sedikit tenang sehingga ia bisa berbicara.
“Saya Olive, Bu. Terimakasih telah menyelamatkan saya, Bu. Saya nggak tahu harus dengan apa agar membalas kebaikan Ibu.  Saya merasa sangat bersyukur telah bertemu dengan orang-orang seperti Ibu”.
“jangan banyak bicara sayang, kau harus istirahat. Tidak usah dipikirkan… mulai sekarang anggaplah Ibu sebagai Ibumu. Sebentar lagi ayahmu akan pulang dari sawah…”. Kemudian Ia pergi dan mengunci pintu dari luar.
Olive segera bangun dari kasurnya, sekarang ia merasa sangat takut. Ia merasa ucapan ibu tadi sangat aneh dan membuat hatinya tak tenang. Ia mengamati seisi kamar dan melihat sebuah kaca berukuran persegi panjang dipajang secara Vertikal. Dan jantungnya berhenti seketika. Ia seperti Mumi. Tak seperti Olivia yang setiap hari ia keluhkan dalam cerminnya!!. Ia bagai melihat sosok asing dalam cermin tersebut. Apa mungkin ia salah melihat?, gadis di dalam sana bertubuh kurus dan semua penuh perban. Ia meraba wajahnya… ternyata luka-lukanya telah kering dan ia bergegas mencari gunting di kamar itu untuk membuka perban-perbannya. Semua terasa sangat sakit sekali… ia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi!!!
Ketika ia melihat kembali ke cermin-ada sesosok wanita yang sangat cantik disana!!. Melihat heran pada dirinya!!. Tidak!!... ini bukan aku!!, ujarnya kepada dirinya sendiri. Ia meraba wajahnya sendiri, tampak halus dan bersih seperti porselen… tak ada lagi bekas jerawat dan noda hitam di wajahnya. Ia tak percaya dengan semua itu!! Dan apa itu?! Rambutnya udah panjang?!. Di mana rambutnya yang pendek dan keriwil itu?! Mengapa jadi lurus dan tipis???. Ia merasa ini tak benar-benar terjadi!!!. Ia berusaha mencari cara bagaimana melarikan diri dari rumah tersebut.
Gubrakzzzzzzzz!!!
Pintu kamar dibuka, seorang laki-laki bertubuh kekar melihat Olive terkejut.
“oh ya’ampunnnnn, cah ayuuuuuuuuuuuuuuuuu-cah ayuuuuuuuuuuu. Anak kita ayune pol!!! Mirip artis di TV” bapak yang berpakaian lusuh tersebut menunjukkan pemandangan yang dilihatnya pada istrinya, istrinya tersenyum penuh kebahagiaan juga.
“anak?!. Aku bukan anak kalian… apa yang kalian lakukan padaku?! Aku mau pulang!!!” Olivia menjerit histeris.
“sabar, Tika. Ayah yang mengoperasimu… dia mantan mahasiswa dokter bedah dulu sehingga bisa mengubah wajahmu yang seperti monster itu menjadi begini rupawan. Berterima kasihlah padanya…”.
“tika?! Namaku Olive buka Tika!!!. Apa yang kalian katakan?!”. Olive menangis bingung.
“oke, Olive. Tika itu adalah anak kami yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu… ia satu-satunya harapan kami. Kami ingin ia sekolah kedokteran seperti ayahnya!!. Aku tak ingin ia gagal seperti ayahnya!!!. Tapi… ia mengalami kecelakaan dan meninggal!!!. Telah lama kami mendambakan seorang seperti Tika. Setelah melihatmu… kami merasa Tika kembali”.
“kau mau jadi anak kami khan, Olive?” ibu Tika melihat Olive sambil meneteskan air mata. Olive merasa ia tengah memasuki sebuah keluarga yang sakit jiwa. Tapi ia tak bisa melawan… ia harus memikirkan cara untuk pergi dari sana… dengan cara aman.




Samm mengurung diri di kamarnya selama dua bulan kehilangan Olive, keluarga Olive sudah pasrah pada polisi. Berbagai cara sudah dilakukan mulai pencarian di Televisi dan internet… semua teman-teman Olive ikut mencari olive hingga ke jalanan dan pelosok desa. Tapi hasilnya nol… terakhir samm mendengar kabar dari Olive lewat Netta dan Cindy. Mereka telah membeberkan rahasia Olive selama ini. Bahwa wanita itu jatuh cinta pada Samm. Dan baru Samm sadari bahwa betapa berartinya Olive baginya setelah Olive menghilang. Dan ia sangat menyesal. Apakah semua sudah terlambat?...
“Samm, keluarlah dari kamar!!. Olive takkan ketemu jika kau hanya mengurung diri di kamar terus!!” ujar ayah Samm dengan logat Batak.
Samm seakan bangun dari tidurnya, ia merasa Ia harus keluar!!. Entah kemana… dia merindukan sosok Olive di sampingnya.
Ia mulai kuliah kembali, tak terasa kemarin baru menghabiskan masa SMA bersama Olive. Samm diterima di Universitas bergengsi di Jakarta. Ia merasa waktu terus berjalan dan meninggalkan masa lalu. Dan iapun menginjakkan kaki ke perpustakaan untuk yang pertama kali. Dulu Olive selalu mengajaknya ke perpustakaan untuk belajar bereng. Tapi ia selalu menolak. Ia lebih memilih untuk hangout bersama teman-temannya daripada berada di perpustakan. Tapi sekarang… ia sangat ingin berada dalam ruangan sunyi itu. Seakan ada yang menariknya untuk kesana…
“kau suka baca Novel juga?”
Seorang gadis tersenyum manis melihat beberapa Novel yang ditelantarkan Samm di meja.
“oh, tidak!!. Emm… maksudku iya!!!” jawab samm gagap karena ia disadarkan dari lamunannya.
“coba kulihat… wow!!! Ini novel kesukaanku semua!!!, jarang ada cowok yang suka novel beginian”. Wanita di depannya menggodanya.
“ya, tapi aku ada!!!” jawab Samm ogah-ogahan.
Jika dulu Samm tak pernah lepas tatapannya dengan wanita cantik namun Samm seakan tak bergeming dengan wanita cantik di depannya. Setelah menyadari perasaannya terhadap Olive, Samm tak pernah berpacaran lagi.
Semua orang di perpus memandang dengan penuh kekaguman ketika mendengar suara merdu gadis di depan Samm yang sedang bernyanyi. Sam terkejut karena lagu tersebut mengingatkannya akan Olive. Olive sangat menyukai lagu tersebut. Membuat perasaan Samm tercabik-cabik!!.
Olive tersentak ketika samm pergi meninggalkannya sehingga ia menghentikan nyanyiannya. Olive segera mengejar samm ke atap gedung… ia menghentikan langkah ketika ia melihat Samm memandangi langit biru. Berdiri di belakang Samm.
“kenapa kau mengikutiku?!” Tanya samm tanpa melihat ke belakang.
“aku… aku hanya penasaran denganmu kenapa begitu dingin padaku. Jadi…” olive mencari-cari alas an yang kira-kira masuk akal.
“aku tak mengenalmu kenapa aku harus bersikap hangat padamu?! Emang siapa kamu?!” samm emosi sambil menunjuk-nunjuk gadis asing di depannya.
“aku pikir kau akan menyukaiku, apa aku tak cukup menarik buatmu?!”
Samm tertawa, “kau gila!!!, baru pertama kali ini ada wanita yang bicara begitu padaku?! Kau pikir kecantikanmu itu segalanya?!. Maaf… tapi aku bukan lelaki yang melihat wanita hanya pada fisiknya!!!. Aku tak mengerti apa maksudmu. Aku hanya ingin mengatakan-sudah ada wanita yang kucintai” samm kembali menatap ruang hampa.
“maaf… aku tak tahu, tapi kalau boleh aku tahu… siapa wanita itu?” suara olive bergetar pelan.
“kau juga tak mengenalnya, yang jelas dia tak sepertimu. Dia tak pernah memperhatikan penampilannya… dia apa adanya dan tomboy. Jika kau belum pernah dengar berita orang hilang… aku beritahu!!! Olivia MahaDewi. Sudah dua tahun dia tak pernah kembali. Jadi kalau kau bertemu dengannya… tolong segera beri tahu aku”.




Olivia tak pernah merasa sebahagia itu, ternyata Samm juga mencintainya. Begitu beruntungnya dirinya. Andai saja dia lebih percaya diri waktu itu… pasti tak seperti ini akhirnya. Tapi apapun itu… Olivia ingin dirinya kembali seperti dulu. Ia tak mau menyesali apa yang telah terjadi dalam hidupnya. Setiap hari… ia selalu mengutuk dirinya di cermin. Betapa jeleknya ia, betapa ia ingin menarik di mata Samm. Betapa dia iri ketika samm memuji-muji gadis lain di depannya. Dan betapa ia berusaha… ia tak bisa menjadi seperti mereka. Tapi kini ia menyadari satu hal… gadis-gadis itu tak bisa mendapatkan cinta samm. Karena kecantikan dari dalam miliknya itulah yang membuat samm cinta mati padanya.
Selama dua tahun ini Olivia memikirkan berbagai cara untuk mendekati Samm, dengan perubahan yang telah ia miliki sekarang-karena operasi bedah yang dilakukan orangtua angkatnya saat kecelakaan mobil itu. Semua keinginannya telah tercapai… ia bukan Olivia yang dulu… ia juga tak lagi tomboy. Tapi sudah sama bahkan lebih dari wanita lainnya. Kini semua pria tergila-gila padanya. Namun Samm tak mencintai sosoknya yang sekarang, ia mencintai Olivia yang dulu. Olivia tak tahu harus berbuat apa.
“Samm, andaisaja Olivia sudah tidak ada lagi di dunia ini, apa kau masih ingin menunggunya?” Tanya Olivia ketika melihat samm membaca buku di perpustakaan pada hari yang berbeda.
“aku tak tahu, yang jelas-tak ada yang bisa menggantikannya” jawab samm datar.
“andaisaja saat kau bertemu dengan Olivia nanti ia tak seperti yang kau inginkan, ia telah berubah!!. Kau masih mau menerimanya?” Olivia tersenyum melihat keangkuhan samm.
“ya, aku mencintainya apa adanya. Heyy… dengar!! Kenapa kau selalu mengingatkanku pada Olivia?! Hatiku sudah perih… tolong-jangan buat keadaan tambah rumit!!!” samm menghentakkan buku yang dibacanya di meja. Petugas perpustakaan mencoba memperingatinya.
“hmmm, maaf!!. Jadi… kau ingin melupakannya?” Olivia sedikit kesal.
Tiba-tiba Samm mencium bibirnya, Olivia merasa nafasnya berhenti. Yang lain-lain
menjadi kabur di pikirannya… what?, setelah samm melepaskannyapun Olivia masih belum sadar dari mimpinya.
“Olivia, jangan mengujiku lagi. Kau percaya padaku, tidak?” kemudian samm pergi dari hadapannya. Tadi Samm memanggil dirinya dengan sebutan apa?... darimana samm tahu?. Olivia tak beranjak dari tempat duduk hingga perpustakaan tutup.



Beberapa bulan kemudian, Olivia mengunjungi ibu dan ayah angkatnya di desa bersama seorang pemuda yang menawan. Cukup serasi dengan gadis yang telah dianggap anak itu oleh mereka. Meskipun Olivia tak tinggal dengan mereka… namun Olivia rutin mengunjungi mereka tak lupa ia menyebut dirinya Tika. Samm merasa aneh dengan semua ini… tapi apaun itu… ia tak akan pernah lagi membiarkan Olivia menghilang dari hidupnya. Karena ia merupakan Anugerah dari Tuhan yang harus ia jaga. Kini… ia tak lagi tertarik dengan gadis-gadis lain lagi yang melintas di hadapannya. Karena baginya-Olivia yang paling cantik dan Olivia bahagia karena sering dipuji-puji oleh samm bukan wanita lain. Tapi dirinya. Pelajaran yang sangat berharga dari segala yang terjadi dalam hidupnya… bahwa kecantikan dan keindahan bersifat tak abadi… tapi cintalah yang bersifat abadi.

-SELESAI

0 komentar: