BEAUTY HOLLIC
on Tuesday, January 25, 2011 at 4:19am ·
“Live,
cewek itu cantik banget, ya?“ Cowok di depan Olivia menunjuk ke arah
seorang wanita bertubuh semampai dengan rambut kecoklatan hingga
sepinggulnya. Gadis di depannya otomatis menatap wanita yang dimaksud,
seketika hatinya terasa sakit.
“Cantik sih, tapi belum tentu
hatinya, khan?. Lagian belum tentu dia mau ma lo hahaha. Emang lo
cakep?” Olivia tertawa keras hingga membuat orang-orang yang berada di
taman kota tersebut menoleh ke dirinya. Begitulah Olivia… dia tak pernah
mengenal malu, dia mengatakan apa yang ia pikirkan tanpa pernah
berfikir untuk berpura-pura menjadi orang lain. Hal itulah yang disukai
Samm, sahabat gadis itu, seperti apapun dirinya-Olive tak pernah
mengeluh dalam hidupnya.
Seketika tangan Samm memporak porandakan
rambut pendek Olive, dan seperti biasa reaksi gadis itu seperti anak
kecil. Berpura-pura marah dan menonjok perut Samm. Dan kemudian… mereka
tertawa bersama. Samm dan Olive telah bersahabat sejak mereka di bangku
SD. Mereka sudah cocok karena sifat Olive yang tomboy. Ketika memasuki
bangku SMP, Olive tak pernah malu bersama Samm ketika para cewek-cewek
di sekolahnya tak menyukainya. Hingga tanpa sadar mereka telah memasuki
bangku SMU. Tak ada yang berubah. Hanya Olivia yang sampai saat ini
belum mempunyai Pacar. Tak seperti Samm yang selalu gonta ganti kekasih.
Suatu hari, Samm pernah menanyakan perihal Cinta pada Olive ketika
Ultahnya Olive yang ke-17.
“Live, masa’ udah umur 17 tahun Lo gak
dapae-dapet cowok, sih? Malu-maluin banget tau, nggak? Hahahaha!. Hidup
jadi membosankan tanpa ngerasain pacaran dan lain-lain. Apa sih yang elo
inginin?... bilang ma Gue. Gue wujudin dah!!”
Olive tersiam lama sekali, dan tiba-tiba Samm melihat ada yang berbeda dalam kedua bola mata sipit Olive.
“Gue pengen berubah, gue pengen kaya cewek-cewek lainnya. Ngerasain disukai… dan seperti yang lo bilang”
“lo-nya
aja yang gak mau berubah, tapi… be yourself, Live. Gak semua yang indah
di mata lo-indah juga menurut orang lain. But… do what do you want…
don’t never afraid about everything”
Samm
melihat cewek agak gemuk di depannya dengan aneh. Tak biasanya Olive
tampak pucat seperti itu, ia juga lebih diam-benar benar bertolak
belakang dengan Olive yang selama ini Ia kenal.
“Live, lo sakit,
ya?. Kok gak kaya’ biasanya?” kejar Samm di koridor sekolah setelah
berjam-jam di kelas Ia memperhatikan keanehan Olive.
Olive memandang dingin pada kedua mata indah Samm.
“Gue
gak papa, gua Cuma kecapean aja. Gue pulang dulu, ya?... tolong
bilangin ma Netta gue gak bisa rapat sekarang. Ada urusan!! Thanks”
kemudian secepat kilat ia meninggalkan Samm yang masih memetung di sana.
Akhirnya Samm hanya bisa pasrah dengan keadaan yang tak biasa ini.
“Lo
gak pernah keliatan bareng Samm lagi, Live. Lo tengkar ma dia?...
cerita aja… siapa tau kita bisa Bantu. Gak baik lho masalah dipendam
sendiri terus. Ntar lo bisa stress… stress bisa menyebabkan frustasi dan
mengalami gangguan jiwa. Gue gak mau temen gue yang satu ini masuk
Rumah Sakit Jiwa. Lo khandh tau gue sibuk, ntar gue gak sempet jengukin
elo di RSJ”. Netta berusaha menghibut Olive. Biasanya Olive yang paling
gokil di antara mereka semua. Karena itu saat nggak ada tingkah konyol
dari Olive lagi membuat perasaan sahabat-sahabatnya itu nggak enak.
“haha
, bisa aja, lo!!. Sebenernya gue pengen cerita kalo gue… sebenernya gue
gak mau cerita ke siapapun. Biar aja gue simpen… toh kalaupun gue
cerita gak bakal ngerubah apapun. So…” tiba-tiba air mata menghiasi
wajah Chubby-nya. Teman-temannya serentak menenangkannya.
“ini ada
hubungannya dengan Samm, khandh? Kalo lo gak mau cerita ya udah gak
papa. Tapi… jangan pernah negative thinking dulu Live, kalo elo belom
mencobanya” netta menjadi sok bijak saat ini. Cindypun tersenyum dalam
hati melihat tingkah sok dewasa Netta.
“Gue suka ma Samm, udah lama. Tapi dia gak nyadarin selama ini”.
Pengakuan
Olive membuat Netta dan Cindy kaget, mereka nggak pernah menyangka
Olive ada rasa dengan Samm. Karena ia tidak pernah menunjukkannya.
“serius,
lo?. Kalo gitu lo ungkapin ke dia aja tentang semua ini. Siapa tahu dia
ngerti. Gue perhatiin Samm nggak pernah serius ma satu cewek, jadi ada
kemungkinan bahwa dia bakal menyayangi elo seperti yang lo rasain ke
dia. Kita bakal dukung lo, Live”
“nggak!! Gue bukan cewek tipe
dia!!. Gue nggak cantik… gue nggak seksi. Gue nggak pantes buat dia”.
Olive kemudian berdiri dan meninggalkan Netta dan Cindy yang belum
mengucapkan sepatah katapun. Ia mengendarai mobilnya kencang dengan
perasaan berkecamuk. Tiba-tiba sebuah truk menabrak sisi mobilnya hingga
membuat mobilnya kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke
semak-semak. Beruntung tubuhnya terlempar meskipun dengan luka parah
karena jika ia masih berada di dalam mobil, ia pasti akan ikut jatuh ke
jurang dengan kobaran api yang membumbung ke angkasa.
Semua gelap,
Olivia seakan bangun dari mimpi ketika ia melihat bilik-bilik bambu. Ia
merasa asing dengan ruangan itu. Dan ia merasakan rasa perih yang amat
sangat… tubuhnya lemas. Ia menangis tapi tak ada suara yang keluar.
“Nak,
sudah sadar?” seorang Ibu tua menidurkannya kembali ke kasur. Olivia
tak mengenali Ibu-Ibu itu. Olivia sama sekali tak mengingat apa yang
terjadi pada dirinya.
“kamu kecelakaan mobil, penduduk sama sekali
tak menemukan identitas tentang kamu. Tapi kita sudah memberitahukan ke
pihak yang berwajib… dua minggu kamu koma, Nak. Tapi syukurlah kamu
selamat”. Ibu itu mengelus kening Olive yang diperban. Akhirnya ia ingat
sekarang… pulang dari Caffe ia ngobrol dengan Netta dan Cindy-sebuah
truk menabrak mobilnya. Dirinya terguncang… banyak pikiran yang
melintasi kepalanya. Ibu tersebut seakan mengerti dan ia segera
mengambil segelas air putih dan meminumkan ke Olive. Perasaan olive
sedikit tenang sehingga ia bisa berbicara.
“Saya Olive, Bu.
Terimakasih telah menyelamatkan saya, Bu. Saya nggak tahu harus dengan
apa agar membalas kebaikan Ibu. Saya merasa sangat bersyukur telah
bertemu dengan orang-orang seperti Ibu”.
“jangan banyak bicara
sayang, kau harus istirahat. Tidak usah dipikirkan… mulai sekarang
anggaplah Ibu sebagai Ibumu. Sebentar lagi ayahmu akan pulang dari
sawah…”. Kemudian Ia pergi dan mengunci pintu dari luar.
Olive
segera bangun dari kasurnya, sekarang ia merasa sangat takut. Ia merasa
ucapan ibu tadi sangat aneh dan membuat hatinya tak tenang. Ia mengamati
seisi kamar dan melihat sebuah kaca berukuran persegi panjang dipajang
secara Vertikal. Dan jantungnya berhenti seketika. Ia seperti Mumi. Tak
seperti Olivia yang setiap hari ia keluhkan dalam cerminnya!!. Ia bagai
melihat sosok asing dalam cermin tersebut. Apa mungkin ia salah
melihat?, gadis di dalam sana bertubuh kurus dan semua penuh perban. Ia
meraba wajahnya… ternyata luka-lukanya telah kering dan ia bergegas
mencari gunting di kamar itu untuk membuka perban-perbannya. Semua
terasa sangat sakit sekali… ia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi!!!
Ketika ia melihat kembali ke cermin-ada sesosok wanita yang sangat cantik disana!!. Melihat heran pada dirinya!!. Tidak!!... ini bukan aku!!,
ujarnya kepada dirinya sendiri. Ia meraba wajahnya sendiri, tampak
halus dan bersih seperti porselen… tak ada lagi bekas jerawat dan noda
hitam di wajahnya. Ia tak percaya dengan semua itu!! Dan apa itu?!
Rambutnya udah panjang?!. Di mana rambutnya yang pendek dan keriwil
itu?! Mengapa jadi lurus dan tipis???. Ia merasa ini tak benar-benar
terjadi!!!. Ia berusaha mencari cara bagaimana melarikan diri dari rumah
tersebut.
Gubrakzzzzzzzz!!!
Pintu kamar dibuka, seorang laki-laki bertubuh kekar melihat Olive terkejut.
“oh
ya’ampunnnnn, cah ayuuuuuuuuuuuuuuuuu-cah ayuuuuuuuuuuu. Anak kita
ayune pol!!! Mirip artis di TV” bapak yang berpakaian lusuh tersebut
menunjukkan pemandangan yang dilihatnya pada istrinya, istrinya
tersenyum penuh kebahagiaan juga.
“anak?!. Aku bukan anak kalian… apa yang kalian lakukan padaku?! Aku mau pulang!!!” Olivia menjerit histeris.
“sabar,
Tika. Ayah yang mengoperasimu… dia mantan mahasiswa dokter bedah dulu
sehingga bisa mengubah wajahmu yang seperti monster itu menjadi begini
rupawan. Berterima kasihlah padanya…”.
“tika?! Namaku Olive buka Tika!!!. Apa yang kalian katakan?!”. Olive menangis bingung.
“oke,
Olive. Tika itu adalah anak kami yang sudah meninggal 10 tahun yang
lalu… ia satu-satunya harapan kami. Kami ingin ia sekolah kedokteran
seperti ayahnya!!. Aku tak ingin ia gagal seperti ayahnya!!!. Tapi… ia
mengalami kecelakaan dan meninggal!!!. Telah lama kami mendambakan
seorang seperti Tika. Setelah melihatmu… kami merasa Tika kembali”.
“kau
mau jadi anak kami khan, Olive?” ibu Tika melihat Olive sambil
meneteskan air mata. Olive merasa ia tengah memasuki sebuah keluarga
yang sakit jiwa. Tapi ia tak bisa melawan… ia harus memikirkan cara
untuk pergi dari sana… dengan cara aman.
Samm
mengurung diri di kamarnya selama dua bulan kehilangan Olive, keluarga
Olive sudah pasrah pada polisi. Berbagai cara sudah dilakukan mulai
pencarian di Televisi dan internet… semua teman-teman Olive ikut mencari
olive hingga ke jalanan dan pelosok desa. Tapi hasilnya nol… terakhir
samm mendengar kabar dari Olive lewat Netta dan Cindy. Mereka telah
membeberkan rahasia Olive selama ini. Bahwa wanita itu jatuh cinta pada
Samm. Dan baru Samm sadari bahwa betapa berartinya Olive baginya setelah
Olive menghilang. Dan ia sangat menyesal. Apakah semua sudah
terlambat?...
“Samm, keluarlah dari kamar!!. Olive takkan ketemu
jika kau hanya mengurung diri di kamar terus!!” ujar ayah Samm dengan
logat Batak.
Samm seakan bangun dari tidurnya, ia merasa Ia harus keluar!!. Entah kemana… dia merindukan sosok Olive di sampingnya.
Ia
mulai kuliah kembali, tak terasa kemarin baru menghabiskan masa SMA
bersama Olive. Samm diterima di Universitas bergengsi di Jakarta. Ia
merasa waktu terus berjalan dan meninggalkan masa lalu. Dan iapun
menginjakkan kaki ke perpustakaan untuk yang pertama kali. Dulu Olive
selalu mengajaknya ke perpustakaan untuk belajar bereng. Tapi ia selalu
menolak. Ia lebih memilih untuk hangout bersama teman-temannya
daripada berada di perpustakan. Tapi sekarang… ia sangat ingin berada
dalam ruangan sunyi itu. Seakan ada yang menariknya untuk kesana…
“kau suka baca Novel juga?”
Seorang gadis tersenyum manis melihat beberapa Novel yang ditelantarkan Samm di meja.
“oh, tidak!!. Emm… maksudku iya!!!” jawab samm gagap karena ia disadarkan dari lamunannya.
“coba kulihat… wow!!! Ini novel kesukaanku semua!!!, jarang ada cowok yang suka novel beginian”. Wanita di depannya menggodanya.
“ya, tapi aku ada!!!” jawab Samm ogah-ogahan.
Jika
dulu Samm tak pernah lepas tatapannya dengan wanita cantik namun Samm
seakan tak bergeming dengan wanita cantik di depannya. Setelah menyadari
perasaannya terhadap Olive, Samm tak pernah berpacaran lagi.
Semua
orang di perpus memandang dengan penuh kekaguman ketika mendengar suara
merdu gadis di depan Samm yang sedang bernyanyi. Sam terkejut karena
lagu tersebut mengingatkannya akan Olive. Olive sangat menyukai lagu
tersebut. Membuat perasaan Samm tercabik-cabik!!.
Olive tersentak
ketika samm pergi meninggalkannya sehingga ia menghentikan nyanyiannya.
Olive segera mengejar samm ke atap gedung… ia menghentikan langkah
ketika ia melihat Samm memandangi langit biru. Berdiri di belakang Samm.
“kenapa kau mengikutiku?!” Tanya samm tanpa melihat ke belakang.
“aku… aku hanya penasaran denganmu kenapa begitu dingin padaku. Jadi…” olive mencari-cari alas an yang kira-kira masuk akal.
“aku
tak mengenalmu kenapa aku harus bersikap hangat padamu?! Emang siapa
kamu?!” samm emosi sambil menunjuk-nunjuk gadis asing di depannya.
“aku pikir kau akan menyukaiku, apa aku tak cukup menarik buatmu?!”
Samm
tertawa, “kau gila!!!, baru pertama kali ini ada wanita yang bicara
begitu padaku?! Kau pikir kecantikanmu itu segalanya?!. Maaf… tapi aku
bukan lelaki yang melihat wanita hanya pada fisiknya!!!. Aku tak
mengerti apa maksudmu. Aku hanya ingin mengatakan-sudah ada wanita yang
kucintai” samm kembali menatap ruang hampa.
“maaf… aku tak tahu, tapi kalau boleh aku tahu… siapa wanita itu?” suara olive bergetar pelan.
“kau
juga tak mengenalnya, yang jelas dia tak sepertimu. Dia tak pernah
memperhatikan penampilannya… dia apa adanya dan tomboy. Jika kau belum
pernah dengar berita orang hilang… aku beritahu!!! Olivia MahaDewi.
Sudah dua tahun dia tak pernah kembali. Jadi kalau kau bertemu
dengannya… tolong segera beri tahu aku”.
Olivia
tak pernah merasa sebahagia itu, ternyata Samm juga mencintainya.
Begitu beruntungnya dirinya. Andai saja dia lebih percaya diri waktu
itu… pasti tak seperti ini akhirnya. Tapi apapun itu… Olivia ingin
dirinya kembali seperti dulu. Ia tak mau menyesali apa yang telah
terjadi dalam hidupnya. Setiap hari… ia selalu mengutuk dirinya di
cermin. Betapa jeleknya ia, betapa ia ingin menarik di mata Samm. Betapa
dia iri ketika samm memuji-muji gadis lain di depannya. Dan betapa ia
berusaha… ia tak bisa menjadi seperti mereka. Tapi kini ia menyadari
satu hal… gadis-gadis itu tak bisa mendapatkan cinta samm. Karena
kecantikan dari dalam miliknya itulah yang membuat samm cinta mati
padanya.
Selama dua tahun ini Olivia memikirkan berbagai cara
untuk mendekati Samm, dengan perubahan yang telah ia miliki
sekarang-karena operasi bedah yang dilakukan orangtua angkatnya saat
kecelakaan mobil itu. Semua keinginannya telah tercapai… ia bukan Olivia
yang dulu… ia juga tak lagi tomboy. Tapi sudah sama bahkan lebih dari
wanita lainnya. Kini semua pria tergila-gila padanya. Namun Samm tak
mencintai sosoknya yang sekarang, ia mencintai Olivia yang dulu. Olivia
tak tahu harus berbuat apa.
“Samm, andaisaja Olivia sudah tidak
ada lagi di dunia ini, apa kau masih ingin menunggunya?” Tanya Olivia
ketika melihat samm membaca buku di perpustakaan pada hari yang berbeda.
“aku tak tahu, yang jelas-tak ada yang bisa menggantikannya” jawab samm datar.
“andaisaja
saat kau bertemu dengan Olivia nanti ia tak seperti yang kau inginkan,
ia telah berubah!!. Kau masih mau menerimanya?” Olivia tersenyum melihat
keangkuhan samm.
“ya, aku mencintainya apa adanya. Heyy… dengar!!
Kenapa kau selalu mengingatkanku pada Olivia?! Hatiku sudah perih…
tolong-jangan buat keadaan tambah rumit!!!” samm menghentakkan buku yang
dibacanya di meja. Petugas perpustakaan mencoba memperingatinya.
“hmmm, maaf!!. Jadi… kau ingin melupakannya?” Olivia sedikit kesal.
Tiba-tiba Samm mencium bibirnya, Olivia merasa nafasnya berhenti. Yang lain-lain
menjadi kabur di pikirannya… what?, setelah samm melepaskannyapun Olivia masih belum sadar dari mimpinya.
menjadi kabur di pikirannya… what?, setelah samm melepaskannyapun Olivia masih belum sadar dari mimpinya.
“Olivia, jangan mengujiku lagi. Kau percaya padaku, tidak?” kemudian samm pergi dari hadapannya. Tadi Samm memanggil dirinya dengan sebutan apa?... darimana samm tahu?. Olivia tak beranjak dari tempat duduk hingga perpustakaan tutup.
Beberapa
bulan kemudian, Olivia mengunjungi ibu dan ayah angkatnya di desa
bersama seorang pemuda yang menawan. Cukup serasi dengan gadis yang
telah dianggap anak itu oleh mereka. Meskipun Olivia tak tinggal dengan
mereka… namun Olivia rutin mengunjungi mereka tak lupa ia menyebut
dirinya Tika. Samm merasa aneh dengan semua ini… tapi apaun itu… ia tak
akan pernah lagi membiarkan Olivia menghilang dari hidupnya. Karena ia
merupakan Anugerah dari Tuhan yang harus ia jaga. Kini… ia tak lagi
tertarik dengan gadis-gadis lain lagi yang melintas di hadapannya.
Karena baginya-Olivia yang paling cantik dan Olivia bahagia karena
sering dipuji-puji oleh samm bukan wanita lain. Tapi dirinya. Pelajaran
yang sangat berharga dari segala yang terjadi dalam hidupnya… bahwa
kecantikan dan keindahan bersifat tak abadi… tapi cintalah yang bersifat
abadi.
-SELESAI
0 komentar:
Posting Komentar