Rss

Senin, 18 Juni 2012

News Release Selasa, 2012 Seminar fotografi dasar dan feature serta cls Untuk model dan fashion Siaran pers


19 Juni

Dunia Fotografi sudah bukan hal baru bagi kita, terutama generasi digital seperti saat sekarang ini. Kecanggihan tekhnologi menghantarkan manusia pada penggunaan alat bantu kerja yang efisien. Fotografi mempunyai tempat terpenting sebagai sarana hiburan dan image yang dibutuhkan perusaahaan ataupun personal, karena itulah Camera dan segala hal yang dapat mengabadikan moment menjadi penting beserta keterjangkauannya. Untuk itulah Nikon bekerjasama dengan sekelompok mahasiswa yang terjun langsung dalam marketing Public Relations mengadakan Edukasi dengan tema “Nikon Goes to Campus”. Kegiatan ini diadakan di Ruang Seminar Universitas Pembangunan Nasional kampus II pada 22 Juni mendatang.
Mulai pukul 09.00 hingga 15.00 akan diisi oleh serangkaian sesi yang menarik seperti ada sesi pemotretan dan menghadirkan Pembicara Hartono Hosea dan Johann Nicholas Hendarta, yang tentunya akan berbagi pengalamannya sebagai Fotografer professional kepada peserta. Event ini juga ajang untuk para kawula dan dewasa mengikutkan foto mereka dalam Kompetisi Fotografi se-yogyakarta dan dengan ukuran foto 4R dibawa ketika acara. Para peserta merupakan Mahasiswa di seluruh Yogyakarta yang mencintai dunia Fotografi pemula maupun professional. Untuk mendapatkan Tiket Seminar ini stand dibuka dari jam 09-00 hingga 17.00 WIB di lobby kampus UPN dengan Htm. 20.000 untuk mahasiswa UPN dan 30.000 untuk umum dan sudah termasuk formulir Lomba beserta sertifikat, seminarkit dan Full dorprice.




“Acara ini diadakan untuk menambah pengetahuan peserta dari luar kampus dan dapat diambil manfaatnya” Lucky-ketua panitia Nikon Goes to University menambahkan, “Kegiatan ini juga dapat menjadi manfaat pada masyarakat Yogyakarta untuk berkarya dan berkontribusi dengan Nikon”. Bedanya Event ini dengan Workshop lainnya yaitu- langsung diberi pelatihan oleh Fotografer nasional. Hartono Hosea adalah fotografer resmi untuk “miss Indonesia 2012” dan salah satu fotografer underwater terbaik di Indonesia. Selanjutnya Johann Nicholas adalah master seni di ISI Jurusan Fotografi, ia merupakan seorang pengajar tetap di ISI dan Nikon School Indonesia.

Keterangan lebih lanjut:
Fitriana Setyaningrum
Humas
(HP. 085726870189)
fitrianamiaww.blogspot.com
Henrick
Acara
(HP. 085228779989)
Universitas Pembangunan Nasional “V”
Jalan Babarsari No. 02 Sleman Yogyakarta

Minggu, 17 Juni 2012

VAMPIRE



            “Kau beneran gak tau siapa aku, la?. Sama sekali tidak ada rasa curiga sedikitpun padaku?... pikirkan saja… kau selalu melihatku di malam hari” ujarku pada lala, seorang gadis cantik dengan wajah yang memucat karena ketakutan. Pertama kali aku melihatnya selalu berdiri di balkonnya pada malam hari. Aku tahu ia sedang bersedih karena orang tuanya selalu bertengkar. Aku datang untuk menghiburnya dan menjadi temannya. Tapi baru malam ini aku akan menyantapnya. Setelah aku yakin ia mampu bahagia meski hidup tak membuatnya bahagia.
            Ia mundur perlahan-lahan. Dengan tertawa sinis aku menunjukkan mata tajamku, lala menatap wajahku yang terpantul sinar rembulan dan berteriak sembari berlari ke dalam rumah. Dalam hitungan detik aku telah berada di depannya, ia ketakutan tak dapat lolos.
            Tanpa basa-basi lagi kugigit lehernya. Darahnya begitu enak… aku meninggalkannya seperti manusia membuang botol minuman yang telah habis diminum. Dan aku terbang kembali ke rumahku, jauh dari kota di mana kaum sepertiku tak perlu bersembunyi dari manusia, namaku Chad-vampire paling jahat diantara vampire yang pernah ada.
            Seperti yang kau tahu vampire tak pernah keluar pada siang hari, tapi tidak untukku. Karena aku paling kuat… jadi aku bisa bertahan dengan sinar matahari… itu kulakukan dengan tujuan-tujuan tertentu, seperti menipu teman-teman manusiaku agar aku lebih mudah membawa mereka ke dalam duniaku. Aku tak punya orang tua seperti vampire lainnya, orang tua yang kumaksud merupakan seorang pelindung. Aku hanya hidup berdua dengan kekasihku yaitu Hillary. Ia putri vampire yang meninggalkan kerajaannya untuk bersamaku. Dan aku yakin ia mencintaiku… tak seperti aku yang tak mencintainya. Entahlah, padahal ia begitu sempurna, tapi ia tak tahu bahwa aku tak mencintainya. Jika ia tahu, ia pasti akan sangat marah padaku. Karena sudah ratusan tahun kita bersama, karena itulah aku menyebut diriku vampire paling jahat. Semua itu kulakukan karena aku membutuhkan keahlian Hillary, ia pemburu yang hebat. Kami suka berburu bersama-sama. Sedangkan aku tak memiliki keahlian apapun. Kami berencana untuk tunangan di Alaska tahun depan. Aku mempersiapkan acara itu dengan menyamar sebagai manusia untuk bekerja di kota. Kaum sepertiku tak sulit mendapatkan pekerjaan karena kemampuan intelektual kami tak terbatas… tak seperti manusia. Di kota kecil ini membuatku cepat terkenal. Tapi tak ada yang tahu bahwa aku seorang vampire. Begitu juga dengan Hillary. Hillary pergi bersekolah karena fisiknya seperti manusia pada masa SMA. Dan aku mengajar di sekolah di mana Hillary bersekolah. Selain Hillary, ada seorang manusia menjadi anak baru juga di sekolah tersebut. Aku tak begitu memperhatikannya tapi karena ia cukup di sukai di kalangan murid pria, aku tahu namanya Samantha. Ketika aku masuk di kelasnya, ia bukan murid yang pintar seperti Hillary. Tapi aku tahu bahwa ia menyukaiku. Aku tahu dari sikapnya yang selalu ramah padaku dan meminta aku mengajarinya pelajaran yang aku ampu. Dekat dengan seorang manusia bukan ide yang baik. Karena kapan saja aku bisa menyantapnya, tapi tak boleh dengan Sam. Ia anak seorang suku Indian yang bisa menguak identitas kaumku.

+++

            Malam itu Seattle diguyur hujan lebat, aku menyelesaikan hasil ulangan murid-muridku. Hillary datang sambil melihat kertas-kertas ulangan murid-muridku. Ia duduk di sampingku dan memulai percakapan.
            “belum hill, tak mungkin aku mengundurkan diri cepat-cepat seperti itu” aku menjawab ucapannya ketika ia berkata bahwa sudah saatnya kita berhenti berpura-pura untuk menjadi manusia.
            “tidak ada yang tidak mungkin, Chad. Sepertinya ada yang lain kenapa kau tak ingin cepat-cepat mengundurkan diri dari pekerjaan!” Hillary mulai marah.
            “maksud kamu apa, hill? Kita tidak mungkin keluar dari sekolah secara bersama-sama, pasti akan dicurigai” alasanku. Dan itu memang alasan yang tepat.
            “oke, kalau begitu aku minta kamu jangan dekat-dekat dengan Sam! Aku nggak mau kehilanganmu, Chad” Hillary menunduk sedih.
            Baru kali ini Hillary cemburu. Ia selalu percaya padaku, dan ternyata ia meminta untuk mengakhiri semua ini karena Sam. Seorang gadis berambut hitam sebahu dengan mata biru keabu-abuan. Dan aku merasa telah berubah. Aku juga menyukai sam. Apa aku harus berbohong lagi dengan Hillary? Jika aku berkata yang sebenarnya, Hillary bisa membunuh sam. Betapa mudahnya sam untuk dimakan… sepertinya aku harus berbohong lagi. Maafkan aku, hill. Aku memeluk Hillary.
            “dia muridku hill, lagian dia Cuma minta diajarin kimia. Kau tahu bagaimana prestasinya di sekolah… kenapa kau harus curiga? Semua ini khan aku mendalami peranku sebagai manusia. Itu semua juga demi kamu”. Bohongku.

            “baiklah kali ini, tapi setelah selesai jangan dekat-dekat lagi padanya. Kecuali kau akan memangsanya” ujarnya lagi. Aku mengangguk dan ia kembali memainkan pekerjaannya yang semula. Bermain piano.

            Dengan meminta ijin untuk mencari mangsa, aku melayang menuju rumah Sam. Jam segini gadis itu sudah terlelap. Aku ingin hadir dalam mimpinya.

            Sam terjaga dari mimpinya, hari telah siang. Ia mebuka gorden kamarnya lebar-lebar dan matahari menyambutnya dengan senang. Ia memimpikan guru kimianya. Seorang pria yang paling tampan yang pernah dilihatnya. Hari ini liburan sekolah, alhasil ia tak bisa bertemu dengan mr. Chad. Karenanya ia menyukai kimia. Dan ia yakin nilainya akan baik semester depan. Ia harus berterimakasih pada pak gurunya itu. Dengan mengendarai motornya, sam pergi ke kota untuk membeli hadiah untuk chad.
            Namun karena ia sendiri di jalanan yang sepi, sam merasa ketakutan. Ia cepat-cepat membeli tuksedo untuk laki-laki dan segera pulang. Dalam perjalanan… ia melihat seorang wanita terjatuh di jalanan. Dan berhenti untuk menolongnya, dan mengantarkan wanita itu ke rumah sakit.
            “kau sam, ya?” Tanya wanita itu saat di perjalanan.
            “iya, apakah kita saling mengenal?” balas sam.
            “oh! Aku Hillary” Hillary tersentak kaget. Ia tak menyangka mangsanya kali ini adalah sam.
            “Hillary? Oh aku tak tahu itu kau, maafkan aku. Kenapa kau bisa di jalanan tengah malam begini Hillary? Kau baik-baik saja?”
            “ya, aku terjatuh dari angkutan umum. Dan terlambat untuk pulang. Antarkan aku pulang saja sam” kemudian dari belakang Hillary menggigit leher sam.     

Bayangan Matahari




        Tak semua hal yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi pada kita-pastilah itu yang terbaik untuk kita. Itu yang tak pernah aku yakini. Aku benar-benar tak sanggup akan keadaan ini. Karena ekonomi keluarga, orangtuaku menjodohkanku dengan Bondy. Ia memang anak orang kaya, tapi aku belum pernah mengenalnya. Bagaimana aku bisa mencintainya… namun kata ibu-cinta akan timbul seiring waktu.
            Pertunanganku dan Bondypun telah dipersiapkan, bondy selalu mengajakku keluar sekedar makan dan berbincang. Kusadari banyak yang iri padaku kenapa aku yang dipilih keluarga Raimuno dan bukannya teman-teman sedesaku. Bondy adalah keturunan belanda, memang aku harus berkorban demi ayah dan ibu. Aku mencoba untuk berfikir positif bahwa suatu hari aku bisa mencintai Bondy.
            Setelah enam bulan kemudian, akhirnya keluarga Bondypun datang untuk meminangku. Semua telah dibicarakan dan hanya menunggu hari H. orangtuaku tampak bahagia karena kebutuhan dan hutang ayah terlunasi. Tapi entah kenapa hatiku miris… aku seakan dijual. Setelah mereka pergi aku langsung masuk kamar dan menangis, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
            Aku mendengar suara Ibu yang memanggil namaku. Dengan berat hati aku membukakan pintuku untuknya.
            “sayang, maafkan ayah dan ibu” Ibu memelukku segera setelah melihat mataku yang memerah. Aku berusaha menahan tangisku.
            “Ibu dan ayah tak bermaksud menjualmu, tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarga kita. Ayahmu dikejar-kejar rentenir setiap hari, ibu harus menenangkan kalian yang kelaparan. Sedangkan adik-adikmu terancam putus sekolah karena tidak ada biaya. Ini pasti akan menjadi baik, Lad. Tak semua hal yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi pada kita-pastilah itu yang terbaik untuk kita”.
            Aku melepaskan pelukan Ibu, “aku mengerti, Bu. Aku akan mencoba bahagia dengan keadaan ini. Semoga ini memang yang terbaik”.
            “ini semua salah ibu, nak. Dulu nenek dan kakekmu menjodohkan ibu dengan anak kepala pabrik, tapi karena ibu menyukai ayahmu-ibu menolaknya. Ayahmu memang berasal dari keluarga miskin saat itu- tapi bagi ibu saat itu, lebih baik hidup miskin daripada bersama dengan orang yang tidak kita cintai. Tapi ternyata salah, ibu dan bapak banyak bertengkar karena masalah ekonomi, harus membesarkan tiga anak yang masih kecil-kecil kala itu. Cinta tidak menjamin kebahagiaan kita, perlu hal-hal lain yang patut dipertimbangkan. Karena itu… jangan sampai kamu tak bisa membahagiakan keluarga dan anakmu kelak karena keegoisanmu”. Ibu berbicara sambil menuntunku ke kamar dan duduk di tepi kasur.
            Ya begitulah, benar kata ibu.
            “tenang bu, aku akan ikhlas menerimanya. Pasti tiap pilihan orangtua adalah yang terbaik untuk anaknya”.
            Ibu tersenyum dan mengelus rambutku yang berantakan ke mukaku,
            “aku siap menikah dengan Bondy besok, doakan aku ya, bu”.
            “pasti sayang, seorang Ibu selalu mendoakan anaknya. Kamu istirahat, ya. Ibu mau beres-beres dulu”.
            “ya, bu”
            Setelah ibu pergi aku mulai berbaring dan memejamkan mata, satu jam kemudian hanya ada kegelapan yang menyelimutiku. Kemudian kegelapan itu berubah menjadi terang yang sangat menyilaukan mataku. Di kejauhan… aku melihat sebuah rumah sederhana. Semakin aku masuk ke dalam, aku melihat ada seorang pria yang sangat tampan dengan seorang gadis. Sepertinya gadis itu aku… tapi pria itu bukan Bondy, dan di sana aku tampak bahagia. Kemudian tubuhku menjauhi mereka… terbang tinggi dan termakan awan.
            Weker di kamarku membangunkan aku, di luar sudah ramai. Aku bangun ketika Ibu membuka pintu kamarku. Ia membangunkanku dan membantuku bersiap-siap menyambut hari besar dalam hidupku.


Kenyataan

        Ketika aku memasuki rumah kumuh itu, aku seakan mau muntah. Bagaimana tidak, orang-orang di sana sangat jelek dan bau. Hanya Lady yang terlihat cantik dengan pakaian pengantinnya.
            Penghulu telah meresmikan bahwa aku dan Lady telah sah menjadi suami istri. Kutatap gadis itu, seperti ada hal tersembunyi yang disimpannya. Aku menggandeng tangannya menuju rumahku setelah resepsi usai.
            Aku belum pindah ke rumah pribadi kami, karena sedang dibangun. Untuk sementara aku tinggal bersama istriku dengan Orangtuaku.
            “Kau pasti belum terbiasa dengan Istana kami ini, Lady. Jangan anggap dirimu pembantu di sini karena akan memalukan nama anakku. Meskipun kamu berasal dari keluarga miskin, kamu harus belajar jadi orang kaya sekarang”. Ayah menyambut Lady dengan ucapan kasar.
            “Baik, Daddy” ia tertunduk.
            Aku melepaskan tanganku yang tadi menggenggam erat tangannya. “Ayah, sudah dipersiapkan kamar untuk kami?”
            Beberapa budak mengangkat koper Lady dan membawanya ke dalam kamar untukku dan Lady.
            “Oh No, jangan bilang kau akan bercinta dengannya, Honey” mom tampak terkejut.
            “loh, kenapa Mom?. Dia khan istriku”.
            Lady tampak gusar.
            “Dia itu kotor sayang, lihat saja kulitnya yang cokelat, kuku-kukunya yang tak terawat. Hih… menjijikkan!”
            “sudahlah, jangan bertengkar. Aku sudah membayar banyak ke orangtuanya, kita harus memperlakukan gadis ini sesuai dengan keinginan kita”.
            “maksud Dad apa?” aku mencari-cari jawaban di kedua bola mata Dad.
            Sebelum Dad menjawab ada suara tubuh jatuh di sampingku, dan kulihat itu Lady. Aku langsung membopongnya ke kamar dengan perasaan takut.
            Kita memang berbeda, termasuk status sosial. Tapi aku jatuh cinta dengan gadis itu ketika aku mengawasi pekerja. Dia sangat anggun dengan pakaiannya yang sederhana, dia berbeda dengan wanita belanda pada umumnya selain karena dia orang Indonesia. Setelah kutahu ayahnya punya hutang yang lumayan besar dengan Dad, aku memanfaatkan kesempatan ini. Seperti di dongeng siti nurbaya, mungkin seperti itulah perasaannya padaku. Aku tahu aku egois, tapi jika aku mendekatinya secara biasa… ia pasti akan menolakku, karena di mindsetnya orang Indonesia- orang belanda itu kejam.
            Dan aku tak ingin ia menganggapku begitu.

###

            Aku seakan mimpi.
            Nyaman sekali tempat tidurku. Dinding-dindingnya dari wallpaper yang cantik, sesekali matahari senja mengintip dari balik jendela kamarku yang besar. Aku terbangun dengan perasaan senang.
            Namun seakan baru sadar dari mimpi, aku melihat Bondy tidur di samping sisi tempat tidurku. Seperti ia tertidur ketika menungguku siuman.
            Aku membencinya, aku baru ingat apa yang dikatakan orangtuanya. Sampai detik ini aku masih belum percaya bahwa aku telah menikah dengan seorang belanda. Aku bangun dan melihat keadaan sekeliling. Karena aku tidak sengaja menabrak meja jati Bondy terbangun.
            “kamu sudah sadar, Sayang?. Syukurlah!” ia mengucek-ngucek matanya.
            Aku melihatnya dengan sinis dan tak menghiraukan kata-katanya. Aku membiarkan angin memasuki kamarku yang indah. Ups!!!... lebih tepatnya kamarku dan Bondy.
            Ketika aku mengagumi indahnya matahari tenggelam yang seolah bersatu dengan pantai, aku merasakan kulit Bondy menyentuh tubuhku dengan lembut.
            Aku melepaskan pelukannya dengan kasar, dan memandangnya. “apa yang mau kau lakukan padaku?!. Aku bukan wanita gampangan yang bisa kau permainkan dengan seenaknya!!!”
            “Lady, aku tak mengerti apa maksudmu. Aku suamimu” pria berambut cokelat itu mencoba menenangkanku.
            “jangan kira aku mau bercinta denganmu meski kau suamiku!!!, aku tidak mencintaimu. Tak akan pernah, jangan sekali-kali kamu menyentuhku!!!. Meskipun kita telah menikah!!”
            Aku membuang muka dan menyadari hari makin gelap. Jiwaku perih. Aku selalu membayangkan kelak aku akan bertemu dengan pangeran impianku. Pastinya bukan keturunan penjajah dan orang jahat… tidak dengan panorama yang sementara ini dengan lingkungan asing, baru beberapa jam aku pergi dari rumah- namun aku begitu merindukan ayah dan ibu. Serta lana dan dewi yang lucu. Aku bagai putri salju yang terkurung dalam istananya yang dingin.
            Tuhan, ijinkan aku untuk pergi dari sini. Aku jijik dengannya… aku tak ingin bertemu dengan orangtuanya yang lebih mirip anjing daripada manusia itu.
            “aku tahu, aku tak akan memaksamu. Aku sadar aku telah melakukan kesalahan… lakukan sesukamu. Karena Cinta memang tak harus memiliki”.
            Aku kaget dengan ucapannya, cinta? Tahu apa Ia soal Cinta. Tak mungkin Ia mencintaiku. Namun aku menjadi beku ketika Ia masuk ke dalam. Dan bukan karena angin malam yang mencoba bermain-main denganku. Tapi aku merasa diriku yang menjadi dingin. Tak tahu akan semua ini, akupun kembali masuk ke kamar. Tapi Bondy sudah pergi. Lamunanku tak berjalan lama ketika cacing-cacing di perutku meminta jatah makanan. Tapi aku tak mau keluar, aku benar-benar ingin pulang.



-Manusia-




Rasanya sedih jadi orang terbuang
Ketika aku melihat video cinta
Betapa ia tak mengerti arti kehidupan
Selalu ada suka dan duka
Namun- bahkan banyak orang bisa mempertahankan hubungan
Ketika mengingat masa indah bersama

Tapi tak untuk dia
Aku hanya ikhlas menjalani ini semua
Sampai diriku seakan mati
Kosong tanpa dia
Dan di sini berusaha melupakannya

Ia yang kupikir hadiah dari Tuhan
Sebagai malaikat pelindungku
seorang yang paling membuatku nyaman
Tiba-tiba kemarin...
Bagai malaikat pencabut nyawa

Tak punya hati dan munafik
Sayapnya yang putih tiba-tiba berubah jadi hitam
Dan akan mengambil nyawaku
Ya Tuhan, aku hanya bisa pasrah menjalani semua
Aku telah berusaha menjadi orang yang jahat
Untuk melawannya

Tapi... seperti kata kawanku- percuma
aku hanya bisa bersyukur dan berfikir positif
Apalagi padaMu
Seolah sendiri di dunia
berusaha merubah tatanan hidupku
Yang dirubah olehnya

Kata orang Ia seorang Iblis
benar
Ia meninggalkanku setelah sekarat
Dan hanya menikmati perih sebelum kematianku
berharap Tuhan atau siapapun memberi keajaiban

Kuharap takkan ada orang lain lagi sepertiku
Percayalah apa kata hatimu
Dan jangan percaya pada kesenangan sesaat
Lebih baik hidup bersama orang yang mencintaimu
Daripada menderita dengan orang yang kau cintai

Kata pepatah, cinta jika ia pergi-pasti kembali
Tapi tak berlaku bagiku
Cinta ini hanya sampai di sini
Takkan ada jalan kembali
Hanya meninggalkan kenangan buruk
entah sampai kapan membekas di tubuhmu

Jumat, 15 Juni 2012






Segaris Moccacino




             Namaku Taylor, aku pecinta Moccacino. Pokoknya segala macam jenis kopi…
          Rasa yang begitu sensasional yang mengingatkanku pada segaris tinta di catatan kuliahku… garisan yang indah dan membuat lukisan senyum di wajahku muncul ketika melihat papa menikah lagi dengan wanita yang tak kukenal sebulan yang lalu. Moccacino, minuman yang membuatku nyaman dan tenang, melupakan sejenak tiap masalah yang ada. Serta teman dalam kesendirianku. Mamaku yang baru sangat membenci Moccacino. Karena tiap kali aku membuat segaris Moccacino, aku selalu tak menghiraukannya. Karena itu Ia selalu membuang Moccacinoku yang masih di Sachete di dalam dapur agar aku tak dapat meminumnya lagi. Tentu saja Ia tak bersikap seperti itu jika ada papa. Aku senang jika ada papa, aku senang jika papa dekat denganku, hanya Ia yang bisa mengerti aku, tapi tentu saja aku tak mau mengungkapkan kekesalanku pada mama, karena mama adalah hidup papa.
          “mau pesan apa, mbak?”
               

Diary Lara



2012



Oleh: FitriAnNA S


THE BEGIN
[Diary Lara]
Terkadang hidup tak seperti keinginan kita, tapi yang harus kita yakin- Tuhan memberikan yang terbaik. Meskipun terlambat buat kita untuk menyadarinya…

            Kau telah memasuki duniaku, Dunia yang Ibuku tanamkan padaku untuk kugali. Untuk kucintai… bersama orang-orang yang mencintainya juga.
            Pernah kumembaca sebuah cerita pendek di suatu majalah, bagiku penulisnya adalah orang yang hebat. Karena tulisannya bisa dipublikasikan dan dibaca semua orang. Aku ingin seperti dia, karena itu aku bergabung di Club Jurnalistik di SMAku. Tak terasa sudah dua tahun aku mengukir nama untuk sekolahku, aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan sastra dan menulis di Majalah Nasional. Aku bisa mandiri dengan uang yang kuperoleh… ibuku di alam sana pasti bangga denganku.
            Rumah yang kutinggali sekarang jauh dari pusat kota, rumah kecil yang dihuni oleh Ayahku dan Ibu Tiriku. Aku tak terlalu menyukainya karena dia selalu masam jika berhadapan denganku. Seperti saat ini…
            “darimana kamu, Lara?!” ia berdiri dari tempat duduknya dan menantangku.
            “abis pulang sekolah, seperti biasa, bu” aku berbohong, karena jika ia tahu aku ikut kegiatan Club, ia pasti marah. Karena warungnya sangat ramai, aku sebagai anak satu-satunya diwajibkan membantunya setelah usai sekolah.
            “sekarang sudah hampir jam 07.00 malam!!!, kau katakan pulang sekolah?! Maksudmu main setelah pulang sekolah?! Pacaran hingga jam segini?! Ibu nggak ada yang membantu!! Kamu sebagai anak nakal sekali”
            Dadaku rasanya berat, tapi aku tak bisa melawannya karena aku sadar aku egois.
            “Ibu udah bicara sama Ayahmu, lebih baik kamu dikoskan saja. Biar kamu tau bagaimana rasanya hidup tanpa Ayah dan Ibu… bagaimana rasanya hidup mandiri!!”
            Aku kaget, “apa?, saya nggak ngerti, bu”
            “bereskan pakaianmu, ibu udah nyariin kos-kosan yang cocok untukmu. Bagaimanapun pergaulanmu di sana… sudah tanggung jawabmu sendiri. Kau sudah besar…”
            “tapi Ibu nggak bisa membuang saya hanya karena saya nggak membantu Ibu selesai sekolah…” aku terisak.
            “bukan hanya itu, lihatlah warung kita!!!. Kotor sekali dan berantakan… bayangkan kalau kau harus mengurus ini sendirian… ibu tahu Ibu bukan Ibu kandungmu. Tapi seharusnya kau tahu siapa yang membesarkanmu selama ini. Ibu tak berharap balasan… tapi setidaknya kau menganggap Ibu seperti Ibu kandungmu sendiri… kau sudah delapan belas tahun, Lara. Sudah seharusnya kau mengerti” ibu pergi naik ke atas. Meninggalkanku di ruang keluarga… bahkan akupun belum meletakkan tas sekolah.
            Aku tak sanggup untuk masuk ke kamar, ayah melihatku dengan tatapan kecewa. Perasaanku sakit sekali… aku berlari keluar rumah. Seperti biasa ke tempat sedari kecil aku kunjungi ketika kusedih. Bukit bintang aku menyebutnya karena ketika malam pemandangannya sangat indah, sepi dan aku bisa menangis sepuasnya.
            “heyy, ada adikku menangis sendirian di sini. What’s up, girl?” Tony menghampiriku. Sebenernya Ia bukan kakakku. Tapi kakak tiriku, namun ia udah kuliah di luar negri dan saat ini sedang liburan di Indonesia…
            “Tony, nggak. Cuma ingin merenung aja di sini… tenang banget di sini” aku beralasan. Dari dulu aku nggak pernah memanggilnya kakak, namun Ia tak pernah keberatan. Jika ada dia… perasaanku nyaman. Ia temanku sejak kecil, namun ketika dewasa Ia mendapatkan beasiswa ke luar negri jadi aku sendiri…
            “aku tau kamu ada masalah, ok boleh kutebak? Pasti bermasalah sama Ibu, khan?” ia tersenyum sambil menurunkan topi dinginnya ke bawah telinganya.
            Ia memang paling mengerti aku, “Cuma kamu ton yang nggak pernah marah ma aku, aku mau dikoskan. Mandiri… aku juga nggak ngerti apakah aku harus kerja sendiri atau gimana… yang jelas aku ngerasa Ibu tega banget membuang aku. Aku nggak bantuin Ibu ada alasannya, Tonn. Aku nulis… seperti cita-citaku ingin jadi penulis” aku terisak lagi, tonny meletakkan kepalaku di dadanya.
            Ia membelai kepalaku, “aku tahu, kamu udah jelasin ke Ibu?” ia masih mendekapku.
            “Ibu udah nuduh aku aneh-aneh, dikiranya aku pacaran. Aku nggak sempat menjelaskan Ibu udah pergi… apalagi Ibu ngungkit-ngungkit soal Ibuku. Aku begitu merindukannya Tonn… dan aku nggak mau dikoskan!! Aku nggak mau pisah ma Ayah… aku udah kehilangan Ibu sekarang aku kehilangan Ayah” aku menarik kepalaku dan menunduk.
            “Ini hanya masalah cara pandang, Lara. Coba kamu posisikan sebagai Ibu… kemudian kamu coba berfikir positif… masalahnya adalah kalian sama-sama tidak saling mengerti, Lara. Masa aku jauh-jauh datang dari Jerman kamu belum dewasa-dewasa juga? Ayo dong. Semangat…”
            “aku memang belum dewasa!!!, aku salah!!! Aku nakal!!!. Puas?! Puas semua orang udah mengatakan aku begitu?!” aku berdiri marah.
            “oke-oke, kalau begitu buktikan kalau kau udah dewasa, Lara. Buktikan bahwa kau benar dan tidak nakal… bisa?”
            Aku tertegun, “maksudmu?”

Kamis, 14 Juni 2012

LIFE OR DIE LOVE



        CERITA PERTAMA

Aku melihat pada kegelapan, namun pikiranku tak di sana. Aku mencintai dia… namun Ia bukan untukku. Aku berdoa dalam tidurku, aku menyanyikan lagu kehilangan.
             
Dan membayangkan mereka semua memandangku, aku bernyanyi untuknya. Terlihat sedih dan mau menangis… tiba-tiba aku berangan ingin menulis kisahku. Kata orang cinta tak harus memiliki. Ya… dia begitu baik.


Ketika kubutuh inspirasi, aku melihat sebuah album biru hadiah ultah dari mamaku ketika aku kelas tiga SMP. Awalnya aku kecewa mama memberikanku hanya sebuah album foto… namun mama berkata dalam,


“mulai sekarang kau bisa menempelkan foto-fotomu di sini, hingga kau dewasa. Kau bisa melihat bagaimana kau kecil… hingga dewasa”


Mama benar. Sederhana tapi berarti, aku kini telah dewasa. Atau lebih tepatnya ‘aku akan dewasa’. Kumulai membuka album biru itu yang hingga kini masih kusimpan dengan baik, halaman pertama adalah kumpulan foto di rumah tanteku. Unik dan berseni, ada fotoku dengan si Miaww. Kucingku yang paling aku sayang…


Seperti dia yang akhirnya berpisah.


Namun ketika membuka halaman kedua, jantungku seakan berhenti.


Ada foto besar dengan tema alam. Alam kampus sih, tapi di situ ada dia. Dia menggendong aku, kulihat diriku terlihat cantik meski lemak di sana sini. Ia terlihat sangat ceria dan lucu. Aku ingat foto itu diambil demi pembuatan filmku. Untuk tugas kuliah aku jadi pemeran di film itu. Hanya aku dan dia. Namun film itu kini tanpa jejak. Aku menghapus semua tentangnya dan dia juga menghapus semua tentangku. Karena itu aku kaget mengapa aku masih punya fotonya.


Sepertinya Tuhan mengerti aku, sebelum aku melihat album biru itu, aku ingin masih menyimpan fotonya. Bukti bahwa ia pernah ada di hidupku. Satu-satunya foto yang tersisa…


Namun hatiku tak seperti dipukul-pukul sekarang. Karena aku sadar… dengan mengenangnyalah aku bisa mengiklaskannya. Dengan mencintainyalah aku bisa tenang.


Aku biarkan diriku tenggelam oleh kesedihan. Cinta tak harus memiliki… dan aku harus bersyukur aku pernah bahagia karena dia. Dia yang menjaga aku, yang sayang padaku hingga kini. Dia yang selalu memarahiku di saat aku salah, dia yang tak tahan jika aku sedih. Ya Tuhan… tak tahan kuteteskan air mata ini. Dan kuharap ia bisa membacanya.


Kututup foto kita berdua, aku melihat foto-fotoku ketika SMA. Aku aktif di Ekstra kulikuler, Osis, hingga berprestasi. Sebelum bertemu dengannya… kemarin aku marah pada Tuhan, mengapa di saat aku mencintai seseorang- Ia mengambilnya. Namun aku mengerti sekarang, suatu kesedihan itu adalah kebahagiaan juga. Membuat kita selalu bersyukur padaNya… agar kita tak menyia-nyiakan seseorang yang mencintai kita. Karena Ia bisa mengambil rasa yang begitu kuat begitu saja, atau membuatnya terhunus perasaan yang membunuh.


Aku tersenyum dalam hati, dengan luka yang ada dalam diriku. Cinta membuat kita hidup… jika kita mengerti makna cinta itu sendiri. Aku mencintaimu, dengan perbedaan yang kita miliki. Dan aku mencintaimu dengan keputusan yang kau ambil, dan aku mencintaimu meski kita terpisah oleh jarak dan waktu. Dan hanya Tuhan yang tahu kelanjutan kisah ini.


Tuhan memberi kita CINTA, bukan untuk keburukan. Bukan untuk menyakiti, bukan pula untuk membunuh. Tapi agar kita selalu mengingatNya… karena hanya Dialah pemilik CINTA yang sesungguhnya. Dan Ia telah memberikan sedikit CINTAnya untukku, dengan aku mengenalmu dan mengenangmu.


Lembar ketiga adalah foto masa kecilku, begitu ceria, bisakah aku seceria dahulu saat ini?. Begitu imut-imut, sekarangpun masih imut-imut hehe. Aku ada karena CINTA Orangtuaku. Aku tak boleh menyesalinya. Aku harus bangga karena orang-orang hebat seperti mereka, membuat aku seperti sekarang. Aku harus tegar- Cinta hanya ujianku. Harus dijalani dan tetap fokus pada tujuan utamaku. Aku yakin Tuhan mengirim dia tadi malam, agar aku menemukan jalanku. Tujuan hidup, yang lama tak kuketahui, mengikuti arus seperti air. Ia mampu membuktikan bahwa Ia mampu, sukses dan keras pada diri sendiri. Akupun harus begitu.  Ya , aku akan mengikuti jejakmu.


Kita bersama dalam hidup, tetap ceria dan jadi apa maumu.

+++++



Cerita ini berawal dari siang itu, aku makan siang di sebuah warung kecil dekat kosku. Setelah memesan makanan, aku melihat beberapa orang pemuda yang melihat ke arahku. Namun ada satu pemuda yang asyik membaca Koran… tubuhnya tinggi dan nggak begitu tampan, ia terlihat dingin meski hatiku tersenyum melihat tingkahnya yang sesekali melirikku.


Dia nggak mungkin menyukaiku, ucapku dalam hati. Dan aku melupakannya.


Hari-hariku sibuk dengan kuliah sambil bekerja. Sesekali aku main dengan teman-temanku, ketika aku bekerja shift malam-aku melihat seorang pemuda datang ke arahku.


Sambil sumringah ia menyapaku, “kayaknya aku pernah ketemu dengan mbaknya, deh”


Karena aku harus ramah dengan Client- akupun membalas sapaannya,


“kayaknya aku juga pernah liat masnya deh, tapi di mana ya?” akupun sibuk melayani Customer yang lainnya. Aku merasa ia memperlama di dalam rental, hingga sepi ia mendekatiku lagi. Begitulah awal aku mengenalnya. Aku merekomendasikan film Twilight padanya, karena aku juga sedang menyukai film itu. Esoknya Ia mengirim sms untukku, menuliskan komentarnya akan film itu. Akupun senang karena aku sudah membaca semua novel-novelnya. Kita mulai dekat dan sering bersama-sama.


Aku tak percaya Ia menyukaiku setelah Ia menyatakan rasa sukanya padaku, saat itu tepat sehari setelah ulang tahunku. Ia memberikanku kalung berbandul kucing, karena Ia tahu aku suka kucing. Aku senang banget tapi saat itu aku menolaknya, baru setelah ia menyatakan perasaannya padaku sebanyak empat kali- aku menerimanya. Kita sering ngobrolin banyak hal dan dia selalu membuatku ketawa, aku yang kaku bisa menjadi seperti anak kecil di depannya. Andaikan perjalanannya sama seperti saat kita awal-awal bersama…


Kita dengan gampang menilai orang lain, tapi kita sulit untuk menilai diri kita sendiri. Itu yang kubaca status temanku di facebook, ya. Aku begitu mengenalnya tetapi aku tak bisa menilai diri sendiri. Seperti air aku menenggelamkan tanah, seperti air emosiku tak stabil, ia yang keras membuatku terpojok dan sering memutuskannya. Dan semua itu telah menjadi cerita yang tak bisa diulang. Akupun tak berhak meminta tuk kembali, karena ia telah lelah. Dan kita tak mungkin untuk bersama.


Pasti ada seseorang yang bisa menggantikannya, aku yakin itu.


Aku rindu saat-saat aku masih kecil, aku berada di suatu tempat yang sangat berbeda dengan di sini. Namun aku mendapatkan kasih sayang yang hingga kini aku rindukan, mbah kakung, nenek dan tante Rurik. Di rumah besar nan rapuh… kegelapan namun tak ada lagi bayangan-bayangan itu. Karena mereka telah pergi… namun nenek selalu muncul dalam mimpi-mimpiku, betapa aku ingin bertemu dengannya dan merindukannya. Namun aku hanya bisa mengunjungi makamnya, suatu saat. Dan bila telah waktunya tiba, aku bisa melepas rasa rinduku ini bersamanya.

+++++



Foto ke empat masih sama. Fotoku saat kecil. Styleku berbeda-beda. Ada fotoku yang memalukan, bahkan yang paling manis menurutku. Aku yang dulu ketika SMP kurus, dan polos. Hingga bermetamorfosis menjadi gadis yang mirip Chinese… kata orang sih… dan ketika rambutku masih hitam legam berfoto bersama teman cowokku. Aku cantik juga di foto itu, satu persatu kuperhatikan- hingga lembar terakhir. Sisi dewasa dan kanak-kanakku, aku bimbang memilih yang mana. Yang jelas aku bersyukur, dan aku sadar Tuhan menyayangiku…


Aku mengesave curhatanku di komputerku, aku mematikan layar monitor dan membereskan buku-buku dan album fotoku. Aku harus segera tidur karena besok harus bangun pagi-pagi- kuliah. Aku ingin belajar yang rajin agar aku bisa mendapatkan beasiswa. Aku ingin menolong mama- dan tak mengulangi kesalahan yang sudah lalu-lalu. Hidupku mulai detik ini pasti lebih baik, aku bersyukur saat ini ada pemuda yang menyayangi aku. Aku takkan menyia-nyiakannya lagi- menunggu sampai nama Rio hilang dari hatiku.


Aku pasti bisa berarti untuk diriku sendiri.

Jumat, 08 Juni 2012

this is my feeling ,


on Saturday, December 19, 2009 at 3:43pm ·

Dia sang purnama
yang pernah menyinariku dengan esnya
menghangatkanku dengan jiwanya
sesuatu yang perih dan tak masuk akal

berjalan cepat seolah tanpa arti
aku membisu di jalanku yang tak panjang
oleh semunya cintanya yang menghancurkanku
bisakah ia merasakannya ?

dulu dan sekarang
hanya ada kenangan yang tersisa
hanya ada luka yang tertinggal
ia tak mampu merasakannya

ia mampu menghapusku dengan mudahnya
tak seperti dirinya yang terus membekas
hingga bumi menghilang . . .
aku terus tak bisa melupakan

semua tentang dia

ternyata benar


on Wednesday, January 6, 2010 at 7:59am ·

ternyata benar
hatimu sudah ada yang memiliki
seseorang yang bisa membutakanmu
seseorang yang tak mungkin aku sepertinya

ternyata benar
dia bukan cinta yang baru buatmu
dan cinta membuat kita merasa menjadi yang lain
aku relakan kau pergi

ternyata benar
aku tak ingin kalah dengannya
dan kusadari semua ini karena cinta
meskipun kutak mampu menembus awan

ternyata benar
akan kubuktikan padamu
bahwa aku takkan kalah dengannya
paling tidak kupunya semiliaran bintang tentangmu

benar dan pasti benar
ternyata kau sudah tak ada lagi disini
betapa benarnya aku tak pantas untukmu
tapi akan kubuktikan aku bukan seseorang yang bodoh seperti dulu

hingga kau melihatku

.telah berakhir.


Monday, February 22, 2010 at 2:04pm ·

sudah tak ada lagi seseorang yg mngetuk-ngetuk kepalaku
sdh tk ad lge mata peri saat kuingat dya
yg ad hanya kenangan sseorang yg tk brarti dsana
dan takkan mjd brarti lge nanti
sampai ia sadar bhwa ia bkn siapa siapa bagiku

ak buka buku diaryku saat ini
ia telah menyelamatkanku dari ketiadaan
dan mengukirnya dengan lembut namanya
ia jadikan malamku dengan indahnya
dan menjalari senyumnya dengan segarnya wajahnya
sesuatu yang tak dapat kau beri...

kutahu hidupnya tak ada lagi aku di dalamnya
dan aku kuat karena kusadar ia tak mampu mengusikku
mungkin untuk sesaat-ia membuatku sedih
tapi sirinya hanya semu

kukatakan bahwa dia malaikat dalam tidurku
menjelma menyelimutiku dengan kasih sayangnya
memberi kekuatan yang lebih berarti
mengobati lukaku yang tak bisa disembuhkan oleh siapapun
kubahagia karena dia
yang tiap detik ada d pembuluh darahku
bercerita pada bulan
dan berkata selalu ada untukku
tak ada lagi mendung-hujanpun terasa hangat
dan aku percaya ini abadi

kau bawa diriku pada kepercayaan
kau terbangkan emosi ini dengan "cinta"
kau basuh diriku dengan rasa sedihmu
semua karena cinta kita

sejak itu kuingin berubah
ia yang mampu membuatku berubah

aku kini memang telah berubah
tapi tak ada lagi kerapuhan akanmu
ia yang membuatku berarti

dan aku ingin selamanya begini
takkan kusiakan lagi
kan kupegang erat...
dirimu yang paling indah

DiRiMu dAn dIrInYa


on Monday, March 22, 2010 at 4:12pm ·

mungkin kau memilih orang yang tepat
dia sempurna-
dan akupun mengakui kelemahanku
semua untukmu
kau mempunyai magnet tersendiri untuk selalu dijaga bintang-bintang
aku tersenyum ikhlas, melepasmu
biarkan kau bahagia...
dengan cinta yang kau punya

aku mengobati lukamu
dan aku mendoakanmu
tapi segalanya tentang aku
tak dapat kuselesaikan

aku pernah menjadi seseorang yang paling bahagia di dunia
karena pernah mengenalmu... merasakan kasih sayangmu
merasakan berartinya hidup
saat di dekatmu

semua itu pernah menjadi hal yang paling menyakitkan
semua itu tak harus kusesali
aku seharusnya bersyukur
kau pernah datang untuk memperbaikiku

aku dan kamu mungkin memang ada cerita
yang hanya sedikit orang yang tahu
atau bahkan mereka telah melupakannya
seperti kau melupakanku

dirimu dan dirinya
dapatkanlah cintamu
seperti kau mendapatkanku dulu

-film-


by Fitriana Setyaningrum on Monday, March 22, 2010 at 4:35pm ·

tak ada lagi keegoisan yang kurasakan
tak ada lagi keperdayaan yang kualami
tak ada lagi dendam yang selalu terbayang
semua perasaan yang dalam dan hanyut

seperti film tua yang telah rusak

di film itu, aku menjadi seekor semut yang sangat kecil
sehingga kau tak bisa melihatku
dan aku takkan mengusikmu
meski ku ada didekatmu

dekat sekali...
kumengamati dirimu yang berperan menjadi seekor kupu-kupu
kupu-kupu biasa
tapi kau mampu membuat bunga-bunga menunggumu
mengharapkan kau menghampirinya
dan bunga yang paling indahlah yang kau pilih

bunga melati itu sangat tinggi di menara gading
kau terbang jauh menghampiri menara itu
kaupun sedih karena tak sampai-sampai
dan menara itu tertutup kaca dan besi yang sanggup membakarmu
seekor semut ini hanya bersimpati padamu
menatapmu yang sangat besar dan anggun

ia selalu berdoa dalam hati
agar kau tak menyerah
seperti saat kau masih menjadi kepompong
kau menemukanku-kau ingin menjadi temanku

dan saat itu aku menganggapmu jahat
tapi kau tak pernah menyerah hingga terlelap
kau tak berhenti ketika ku gigit dengan racun yang sangat sakit
dirimu membuatku tergugu
hingga sampai kini aku masih mengingatmu

lakukan padanya kawan,
aku yakin bunga langka itu akan tertarik padamu
kau ada dan aku tiada bagimu
mski perih kuingin kau bahagia

MANTANKU TERSENYUM PERIH



Wanita itu masih kelas dua SMA saat aku mengenalnya. Seorang wanita yang cantik, baik hati dan pintar. Namanya adalah Larenna Utami. Nama yang mencerminkan dirinya dan aku sangat menyukainya.
Sudah tiga tahun lamanya aku mendekatinya. Dan aku berhasil mendapatkannya juga hatinya: tapi ternyata ia tak seperti yang kukira, ia seorang petualang cinta, dan tidak berasal dari keluarga yang baik-baik, dan prinsip hidup kita ternyata berbeda jauh. Dan sejujurnya karena perasaanku padanya aku menerimanya apa adanya, hingga aku benar-benar tak tahan dengan sikapnya padaku. Aku mencoba untuk meninggalkannya meskipun aku pernah berjanji takkan pernah meninggalkannya. Ia menangis dan berkata padaku bahwa akulah cinta sejatinya. Tapi aku sudah tak percaya lagi padanya, dan aku mencoba untuk menghapus semua tentang dia. Tak masalah baginya, dia akan gampang mendapatkan penggantiku. Karena selama ini banyak yang menyukainya juga. Dan aku berhasil menghapus dia dari kehidupanku.
Sudah satu tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya. Dan aku memulai hidupku yang baru dengan perasaan bebas., saat beres-beres kamar-aku menemukan sebuah foto yang membuatku sangat terkejut.
Seorang gadis yang sangat cantik tersenyum di sana dengan manjanya. Dia membawaku pada memori SMA yang takkan pernah kulupakan. Dan gadis itulah yang bisa membuatku jatuh cinta padanya, bahkan Larennapun tak bisa menjadi seperti dia. Dan baru kusadari bahwa aku telah membohongi Larenna. Bahwa aku hanya mencintai wanita itu dan bukan mantan pacarku itu. Dan sejak itu aku mencari tahu bagaimana sekarang keadaan gadisku. Melalui seorang teman aku baru tahu bahwa ia akan menikah, hatiku hancur seketika. Ia masih bisa kulihat dan kudengar… dan aku mencoba menghubunginya, tapi ia tak mengakui berita itu. Hatiku berat… tak ingin ia bersama cowok lainnya. Aku hanya bisa mencintainya dalam hati.
Pembohong
Munafik
Jahat
Aku membaca sms yang aku tahu dari Larenna, terserah apa yang akan ia katakan padaku. Aku tak perduli lagi padanya. Aku takkan pernah memandangnya lagi. Seperti dulu. Biarkan ia perih, biarkan ia menangis. Aku ingin tahu bahwa ia tak pernah penting dan tak kukenal dalam hidupku…
Aku tak pernah mengingatnya. Aku tak pernah merasa pernah bertemu dengannya. Tak pernah menatap matanya dan berbicara padanya. Tak pernah mengejarnya dan tak pernah tidak menyerah agar dia menyukaiku, dan aku tidak pernah sakit hati padanya. Biarkan ia mengenang bayang-bayangku yang pernah mengukir kisah indah dalam hatinya. Tangis dan tawa hanya dia yang tahu.
Menjelang hari ulang tahunku aku kembali ke kota tempatku belajar. Aku berbaring santai di kasurku yang empuk. Sayup-sayup aku mendengar seseorang di pintu kamarku. kubuka pintu dan melihat siapa yang datang… seorang gadis dengan rambut terurai panjang menatapku dalam. Tak mengira ia berdiri di hadapanku. Ia memang cantik. Dengan mata birunya yang mempesona. Ia telah berubah, menjadi sosok yang anggun dan berbeda dengan dirinya. Aku melihat kado di tangannya, dan berusaha untuk tetap acuh padanya.
"ada apa?!" tanyaku dengan nada tinggi.
"Bernard… selamat ulang tahun yach!!!" gadis itu tersenyum perih.
Bisa kutahu dari nada suaranya bahwa ia sangat sedih.
"makasih!!!" ujarku tak perduli.
Ia menjulurkan sebuah kado kecil yang terbalut dengan manis di tangannya, "untukmu, diterima ya? Jangan dibuang… ini hatiku yang paling dalam. Jaga hatiku baik-baik. Jangan diberikan pada orang lain. Aku akan melupakan semuanya. Dan semoga terakhir kali ini aku mampu…" ia meneteskan air mata.
Aku masih terdiam di tempat, tanpa sedikitpun menatap matanya. "oke, udah selesai?! Aku ada acara!!!" aku berusaha melawan perasaanku.
Ia tersenyum perih.
"kau memang bukan seseorang yang sempurna, tapi kau menyempurnakan hidupku. Aku memang tak baik untukmu. Wanita itu yang memilikimu… dia sangat beruntung. Aku bahagia jika kau bahagia, Bernard. Aku sungguh-sungguh menyayangimu" gadis itu berlari meninggalkanku.
Aku hanya menatap kado dari dia di lantai, berusaha menghapus apa yang barusan terjadi. Aku segera pergi dan meninggalkan kado darinya tanpa kusentuh sedikitpun.

~~~

Ya tuhannnnnnn……………., mengapa kau menganugerahkan cinta yang tak bisa kumiliki???. Harus bagaimana lagi agar aku bisa melupakannya. Apa aku harus mengejarnya seakan perempuan yang tak memiliki harga diri??? Dan ia akan semakin membenciku dan menjauh. Oke, mungkin dia bukan jodohku, biarlah ini menjadi kenangan pahit yang pernah kumiliki. Kini aku ingin berubah. Tak ingin mempermainkan cinta lagi. Tak ingin menyakiti lagi. Sekarang ada dua orang disampingku. Seorang pria yang tampan dan baik hati. Dan yang satunya lagi adalah teman Bernard yang mirip banget ma dia. Karena itu aku juga menyukainya. Aku tidak boleh egois… aku harus memilih salah satu dari mereka dan membuka hatiku pada pilihanku nanti. Tapi aku takut, aku takut untuk menyakitinya. Tapi aku juga tak ingin mendua. Sudah banyak perasaan yang kusakiti. Hanya karena seseorang bernama Bernard!!!


Aku melihat kembali kado dari Larenna. Dia memang menjadi wanita yang pertama menjadi kekasihku. Tapi bukan berarti segalanya. Ia mengajarkanku banyak hal. Bahwa di dunia ini tak ada yang abadi. Tak ada yang sempurna, kecuali Dia.
Dear my greatest love,
Seorang wanita yang paling sempurna dan yang mengisi hatiku selama ini. Udah sejak lama aku menginginkanmu, mendewasakan hatiku dengan kelembutanmu. Memaki diriku bersamamu. Telah habis jiwa dan raga ini kembali padamu. Dan kutahu takdir tak berpihak padaku. Kuyakini bahwa perasaanku hanya tersimpan saat kubersamanya.
Seseorang yang tak seharusnya ada. Seseorang yang menambah lukaku. Jujur aku pernah berbuat hal bodoh karenanya. Bahkan aku menjadi orang lain demi dia. Aku mempermalukan diriku sendiri bahwa dia yang paling tak ingin ku kehilangannya. Demi waktu… aku menyesal. Aku kehilangan arah. Aku membuat tubuh ini bertambah parah… semua ini karena Larenna. Larenna yang sangat aku benci.
Aku ingin kembali bahagia dengan jatuh cinta padamu lagi… Lara.

Bernard

Aku kembali berkonsentrasi pada laptopku, aku mengutak-atik photoshop mendesign foto seorang wanita. Lara. Dan akan kutaruh di album facebookku. Ia akan selalu ada, dan aku ingin semua orang mengetahuinya.