Tak semua hal yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi
pada kita-pastilah itu yang terbaik untuk kita. Itu yang tak pernah aku yakini. Aku
benar-benar tak sanggup akan keadaan ini. Karena ekonomi keluarga, orangtuaku menjodohkanku
dengan Bondy. Ia memang anak orang kaya, tapi aku belum pernah mengenalnya.
Bagaimana aku bisa mencintainya… namun kata ibu-cinta akan timbul seiring
waktu.
Pertunanganku
dan Bondypun telah dipersiapkan, bondy selalu mengajakku keluar sekedar makan
dan berbincang. Kusadari banyak yang iri padaku kenapa aku yang dipilih
keluarga Raimuno dan bukannya teman-teman sedesaku. Bondy adalah keturunan
belanda, memang aku harus berkorban demi ayah dan ibu. Aku mencoba untuk
berfikir positif bahwa suatu hari aku bisa mencintai Bondy.
Setelah
enam bulan kemudian, akhirnya keluarga Bondypun datang untuk meminangku. Semua
telah dibicarakan dan hanya menunggu hari H. orangtuaku tampak bahagia karena
kebutuhan dan hutang ayah terlunasi. Tapi entah kenapa hatiku miris… aku seakan
dijual. Setelah mereka pergi aku langsung masuk kamar dan menangis, tiba-tiba
ada suara ketukan pintu.
Aku
mendengar suara Ibu yang memanggil namaku. Dengan berat hati aku membukakan
pintuku untuknya.
“sayang,
maafkan ayah dan ibu” Ibu memelukku segera setelah melihat mataku yang memerah.
Aku berusaha menahan tangisku.
“Ibu
dan ayah tak bermaksud menjualmu, tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk
menyelamatkan keluarga kita. Ayahmu dikejar-kejar rentenir setiap hari, ibu
harus menenangkan kalian yang kelaparan. Sedangkan adik-adikmu terancam putus
sekolah karena tidak ada biaya. Ini pasti akan menjadi baik, Lad. Tak semua hal
yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi pada kita-pastilah itu
yang terbaik untuk kita”.
Aku
melepaskan pelukan Ibu, “aku mengerti, Bu. Aku akan mencoba bahagia dengan
keadaan ini. Semoga ini memang yang terbaik”.
“ini
semua salah ibu, nak. Dulu nenek dan kakekmu menjodohkan ibu dengan anak kepala
pabrik, tapi karena ibu menyukai ayahmu-ibu menolaknya. Ayahmu memang berasal
dari keluarga miskin saat itu- tapi bagi ibu saat itu, lebih baik hidup miskin
daripada bersama dengan orang yang tidak kita cintai. Tapi ternyata salah, ibu
dan bapak banyak bertengkar karena masalah ekonomi, harus membesarkan tiga anak
yang masih kecil-kecil kala itu. Cinta tidak menjamin kebahagiaan kita, perlu
hal-hal lain yang patut dipertimbangkan. Karena itu… jangan sampai kamu tak
bisa membahagiakan keluarga dan anakmu kelak karena keegoisanmu”. Ibu berbicara
sambil menuntunku ke kamar dan duduk di tepi kasur.
Ya
begitulah, benar kata ibu.
“tenang
bu, aku akan ikhlas menerimanya. Pasti tiap pilihan orangtua adalah yang
terbaik untuk anaknya”.
Ibu
tersenyum dan mengelus rambutku yang berantakan ke mukaku,
“aku
siap menikah dengan Bondy besok, doakan aku ya, bu”.
“pasti
sayang, seorang Ibu selalu mendoakan anaknya. Kamu istirahat, ya. Ibu mau
beres-beres dulu”.
“ya,
bu”
Setelah
ibu pergi aku mulai berbaring dan memejamkan mata, satu jam kemudian hanya ada
kegelapan yang menyelimutiku. Kemudian kegelapan itu berubah menjadi terang
yang sangat menyilaukan mataku. Di kejauhan… aku melihat sebuah rumah
sederhana. Semakin aku masuk ke dalam, aku melihat ada seorang pria yang sangat
tampan dengan seorang gadis. Sepertinya gadis itu aku… tapi pria itu bukan
Bondy, dan di sana aku tampak bahagia. Kemudian tubuhku menjauhi mereka…
terbang tinggi dan termakan awan.
Weker
di kamarku membangunkan aku, di luar sudah ramai. Aku bangun ketika Ibu membuka
pintu kamarku. Ia membangunkanku dan membantuku bersiap-siap menyambut hari
besar dalam hidupku.
Kenyataan
Ketika aku memasuki rumah kumuh itu, aku
seakan mau muntah. Bagaimana tidak, orang-orang di sana sangat jelek dan bau.
Hanya Lady yang terlihat cantik dengan pakaian pengantinnya.
Penghulu
telah meresmikan bahwa aku dan Lady telah sah menjadi suami istri. Kutatap
gadis itu, seperti ada hal tersembunyi yang disimpannya. Aku menggandeng
tangannya menuju rumahku setelah resepsi usai.
Aku belum
pindah ke rumah pribadi kami, karena sedang dibangun. Untuk sementara aku
tinggal bersama istriku dengan Orangtuaku.
“Kau
pasti belum terbiasa dengan Istana kami ini, Lady. Jangan anggap dirimu
pembantu di sini karena akan memalukan nama anakku. Meskipun kamu berasal dari
keluarga miskin, kamu harus belajar jadi orang kaya sekarang”. Ayah menyambut
Lady dengan ucapan kasar.
“Baik,
Daddy” ia tertunduk.
Aku
melepaskan tanganku yang tadi menggenggam erat tangannya. “Ayah, sudah
dipersiapkan kamar untuk kami?”
Beberapa
budak mengangkat koper Lady dan membawanya ke dalam kamar untukku dan Lady.
“Oh
No, jangan bilang kau akan bercinta dengannya, Honey” mom tampak terkejut.
“loh,
kenapa Mom?. Dia khan istriku”.
Lady
tampak gusar.
“Dia
itu kotor sayang, lihat saja kulitnya yang cokelat, kuku-kukunya yang tak
terawat. Hih… menjijikkan!”
“sudahlah,
jangan bertengkar. Aku sudah membayar banyak ke orangtuanya, kita harus
memperlakukan gadis ini sesuai dengan keinginan kita”.
“maksud
Dad apa?” aku mencari-cari jawaban di kedua bola mata Dad.
Sebelum
Dad menjawab ada suara tubuh jatuh di sampingku, dan kulihat itu Lady. Aku
langsung membopongnya ke kamar dengan perasaan takut.
Kita
memang berbeda, termasuk status sosial. Tapi aku jatuh cinta dengan gadis itu
ketika aku mengawasi pekerja. Dia sangat anggun dengan pakaiannya yang
sederhana, dia berbeda dengan wanita belanda pada umumnya selain karena dia
orang Indonesia. Setelah kutahu ayahnya punya hutang yang lumayan besar dengan
Dad, aku memanfaatkan kesempatan ini. Seperti di dongeng siti nurbaya, mungkin
seperti itulah perasaannya padaku. Aku tahu aku egois, tapi jika aku
mendekatinya secara biasa… ia pasti akan menolakku, karena di mindsetnya orang
Indonesia- orang belanda itu kejam.
Dan
aku tak ingin ia menganggapku begitu.
###
Aku
seakan mimpi.
Nyaman
sekali tempat tidurku. Dinding-dindingnya dari wallpaper yang cantik, sesekali
matahari senja mengintip dari balik jendela kamarku yang besar. Aku terbangun
dengan perasaan senang.
Namun
seakan baru sadar dari mimpi, aku melihat Bondy tidur di samping sisi tempat
tidurku. Seperti ia tertidur ketika menungguku siuman.
Aku
membencinya, aku baru ingat apa yang dikatakan orangtuanya. Sampai detik ini
aku masih belum percaya bahwa aku telah menikah dengan seorang belanda. Aku
bangun dan melihat keadaan sekeliling. Karena aku tidak sengaja menabrak meja
jati Bondy terbangun.
“kamu
sudah sadar, Sayang?. Syukurlah!” ia mengucek-ngucek matanya.
Aku
melihatnya dengan sinis dan tak menghiraukan kata-katanya. Aku membiarkan angin
memasuki kamarku yang indah. Ups!!!... lebih tepatnya kamarku dan Bondy.
Ketika
aku mengagumi indahnya matahari tenggelam yang seolah bersatu dengan pantai,
aku merasakan kulit Bondy menyentuh tubuhku dengan lembut.
Aku
melepaskan pelukannya dengan kasar, dan memandangnya. “apa yang mau kau lakukan
padaku?!. Aku bukan wanita gampangan yang bisa kau permainkan dengan
seenaknya!!!”
“Lady,
aku tak mengerti apa maksudmu. Aku suamimu” pria berambut cokelat itu mencoba
menenangkanku.
“jangan
kira aku mau bercinta denganmu meski kau suamiku!!!, aku tidak mencintaimu. Tak
akan pernah, jangan sekali-kali kamu menyentuhku!!!. Meskipun kita telah
menikah!!”
Aku
membuang muka dan menyadari hari makin gelap. Jiwaku perih. Aku selalu
membayangkan kelak aku akan bertemu dengan pangeran impianku. Pastinya bukan
keturunan penjajah dan orang jahat… tidak dengan panorama yang sementara ini
dengan lingkungan asing, baru beberapa jam aku pergi dari rumah- namun aku
begitu merindukan ayah dan ibu. Serta lana dan dewi yang lucu. Aku bagai putri
salju yang terkurung dalam istananya yang dingin.
Tuhan, ijinkan aku untuk pergi dari sini.
Aku jijik dengannya… aku tak ingin bertemu dengan orangtuanya yang lebih mirip
anjing daripada manusia itu.
“aku tahu, aku tak akan memaksamu. Aku
sadar aku telah melakukan kesalahan… lakukan sesukamu. Karena Cinta memang tak
harus memiliki”.
Aku
kaget dengan ucapannya, cinta? Tahu apa Ia soal Cinta. Tak mungkin Ia
mencintaiku. Namun aku menjadi beku ketika Ia masuk ke dalam. Dan bukan karena
angin malam yang mencoba bermain-main denganku. Tapi aku merasa diriku yang
menjadi dingin. Tak tahu akan semua ini, akupun kembali masuk ke kamar. Tapi
Bondy sudah pergi. Lamunanku tak berjalan lama ketika cacing-cacing di perutku
meminta jatah makanan. Tapi aku tak mau keluar, aku benar-benar ingin pulang.