Rss

Minggu, 17 Juni 2012

Bayangan Matahari




        Tak semua hal yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi pada kita-pastilah itu yang terbaik untuk kita. Itu yang tak pernah aku yakini. Aku benar-benar tak sanggup akan keadaan ini. Karena ekonomi keluarga, orangtuaku menjodohkanku dengan Bondy. Ia memang anak orang kaya, tapi aku belum pernah mengenalnya. Bagaimana aku bisa mencintainya… namun kata ibu-cinta akan timbul seiring waktu.
            Pertunanganku dan Bondypun telah dipersiapkan, bondy selalu mengajakku keluar sekedar makan dan berbincang. Kusadari banyak yang iri padaku kenapa aku yang dipilih keluarga Raimuno dan bukannya teman-teman sedesaku. Bondy adalah keturunan belanda, memang aku harus berkorban demi ayah dan ibu. Aku mencoba untuk berfikir positif bahwa suatu hari aku bisa mencintai Bondy.
            Setelah enam bulan kemudian, akhirnya keluarga Bondypun datang untuk meminangku. Semua telah dibicarakan dan hanya menunggu hari H. orangtuaku tampak bahagia karena kebutuhan dan hutang ayah terlunasi. Tapi entah kenapa hatiku miris… aku seakan dijual. Setelah mereka pergi aku langsung masuk kamar dan menangis, tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
            Aku mendengar suara Ibu yang memanggil namaku. Dengan berat hati aku membukakan pintuku untuknya.
            “sayang, maafkan ayah dan ibu” Ibu memelukku segera setelah melihat mataku yang memerah. Aku berusaha menahan tangisku.
            “Ibu dan ayah tak bermaksud menjualmu, tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan keluarga kita. Ayahmu dikejar-kejar rentenir setiap hari, ibu harus menenangkan kalian yang kelaparan. Sedangkan adik-adikmu terancam putus sekolah karena tidak ada biaya. Ini pasti akan menjadi baik, Lad. Tak semua hal yang kita inginkan terwujud, tapi apa yang telah terjadi pada kita-pastilah itu yang terbaik untuk kita”.
            Aku melepaskan pelukan Ibu, “aku mengerti, Bu. Aku akan mencoba bahagia dengan keadaan ini. Semoga ini memang yang terbaik”.
            “ini semua salah ibu, nak. Dulu nenek dan kakekmu menjodohkan ibu dengan anak kepala pabrik, tapi karena ibu menyukai ayahmu-ibu menolaknya. Ayahmu memang berasal dari keluarga miskin saat itu- tapi bagi ibu saat itu, lebih baik hidup miskin daripada bersama dengan orang yang tidak kita cintai. Tapi ternyata salah, ibu dan bapak banyak bertengkar karena masalah ekonomi, harus membesarkan tiga anak yang masih kecil-kecil kala itu. Cinta tidak menjamin kebahagiaan kita, perlu hal-hal lain yang patut dipertimbangkan. Karena itu… jangan sampai kamu tak bisa membahagiakan keluarga dan anakmu kelak karena keegoisanmu”. Ibu berbicara sambil menuntunku ke kamar dan duduk di tepi kasur.
            Ya begitulah, benar kata ibu.
            “tenang bu, aku akan ikhlas menerimanya. Pasti tiap pilihan orangtua adalah yang terbaik untuk anaknya”.
            Ibu tersenyum dan mengelus rambutku yang berantakan ke mukaku,
            “aku siap menikah dengan Bondy besok, doakan aku ya, bu”.
            “pasti sayang, seorang Ibu selalu mendoakan anaknya. Kamu istirahat, ya. Ibu mau beres-beres dulu”.
            “ya, bu”
            Setelah ibu pergi aku mulai berbaring dan memejamkan mata, satu jam kemudian hanya ada kegelapan yang menyelimutiku. Kemudian kegelapan itu berubah menjadi terang yang sangat menyilaukan mataku. Di kejauhan… aku melihat sebuah rumah sederhana. Semakin aku masuk ke dalam, aku melihat ada seorang pria yang sangat tampan dengan seorang gadis. Sepertinya gadis itu aku… tapi pria itu bukan Bondy, dan di sana aku tampak bahagia. Kemudian tubuhku menjauhi mereka… terbang tinggi dan termakan awan.
            Weker di kamarku membangunkan aku, di luar sudah ramai. Aku bangun ketika Ibu membuka pintu kamarku. Ia membangunkanku dan membantuku bersiap-siap menyambut hari besar dalam hidupku.


Kenyataan

        Ketika aku memasuki rumah kumuh itu, aku seakan mau muntah. Bagaimana tidak, orang-orang di sana sangat jelek dan bau. Hanya Lady yang terlihat cantik dengan pakaian pengantinnya.
            Penghulu telah meresmikan bahwa aku dan Lady telah sah menjadi suami istri. Kutatap gadis itu, seperti ada hal tersembunyi yang disimpannya. Aku menggandeng tangannya menuju rumahku setelah resepsi usai.
            Aku belum pindah ke rumah pribadi kami, karena sedang dibangun. Untuk sementara aku tinggal bersama istriku dengan Orangtuaku.
            “Kau pasti belum terbiasa dengan Istana kami ini, Lady. Jangan anggap dirimu pembantu di sini karena akan memalukan nama anakku. Meskipun kamu berasal dari keluarga miskin, kamu harus belajar jadi orang kaya sekarang”. Ayah menyambut Lady dengan ucapan kasar.
            “Baik, Daddy” ia tertunduk.
            Aku melepaskan tanganku yang tadi menggenggam erat tangannya. “Ayah, sudah dipersiapkan kamar untuk kami?”
            Beberapa budak mengangkat koper Lady dan membawanya ke dalam kamar untukku dan Lady.
            “Oh No, jangan bilang kau akan bercinta dengannya, Honey” mom tampak terkejut.
            “loh, kenapa Mom?. Dia khan istriku”.
            Lady tampak gusar.
            “Dia itu kotor sayang, lihat saja kulitnya yang cokelat, kuku-kukunya yang tak terawat. Hih… menjijikkan!”
            “sudahlah, jangan bertengkar. Aku sudah membayar banyak ke orangtuanya, kita harus memperlakukan gadis ini sesuai dengan keinginan kita”.
            “maksud Dad apa?” aku mencari-cari jawaban di kedua bola mata Dad.
            Sebelum Dad menjawab ada suara tubuh jatuh di sampingku, dan kulihat itu Lady. Aku langsung membopongnya ke kamar dengan perasaan takut.
            Kita memang berbeda, termasuk status sosial. Tapi aku jatuh cinta dengan gadis itu ketika aku mengawasi pekerja. Dia sangat anggun dengan pakaiannya yang sederhana, dia berbeda dengan wanita belanda pada umumnya selain karena dia orang Indonesia. Setelah kutahu ayahnya punya hutang yang lumayan besar dengan Dad, aku memanfaatkan kesempatan ini. Seperti di dongeng siti nurbaya, mungkin seperti itulah perasaannya padaku. Aku tahu aku egois, tapi jika aku mendekatinya secara biasa… ia pasti akan menolakku, karena di mindsetnya orang Indonesia- orang belanda itu kejam.
            Dan aku tak ingin ia menganggapku begitu.

###

            Aku seakan mimpi.
            Nyaman sekali tempat tidurku. Dinding-dindingnya dari wallpaper yang cantik, sesekali matahari senja mengintip dari balik jendela kamarku yang besar. Aku terbangun dengan perasaan senang.
            Namun seakan baru sadar dari mimpi, aku melihat Bondy tidur di samping sisi tempat tidurku. Seperti ia tertidur ketika menungguku siuman.
            Aku membencinya, aku baru ingat apa yang dikatakan orangtuanya. Sampai detik ini aku masih belum percaya bahwa aku telah menikah dengan seorang belanda. Aku bangun dan melihat keadaan sekeliling. Karena aku tidak sengaja menabrak meja jati Bondy terbangun.
            “kamu sudah sadar, Sayang?. Syukurlah!” ia mengucek-ngucek matanya.
            Aku melihatnya dengan sinis dan tak menghiraukan kata-katanya. Aku membiarkan angin memasuki kamarku yang indah. Ups!!!... lebih tepatnya kamarku dan Bondy.
            Ketika aku mengagumi indahnya matahari tenggelam yang seolah bersatu dengan pantai, aku merasakan kulit Bondy menyentuh tubuhku dengan lembut.
            Aku melepaskan pelukannya dengan kasar, dan memandangnya. “apa yang mau kau lakukan padaku?!. Aku bukan wanita gampangan yang bisa kau permainkan dengan seenaknya!!!”
            “Lady, aku tak mengerti apa maksudmu. Aku suamimu” pria berambut cokelat itu mencoba menenangkanku.
            “jangan kira aku mau bercinta denganmu meski kau suamiku!!!, aku tidak mencintaimu. Tak akan pernah, jangan sekali-kali kamu menyentuhku!!!. Meskipun kita telah menikah!!”
            Aku membuang muka dan menyadari hari makin gelap. Jiwaku perih. Aku selalu membayangkan kelak aku akan bertemu dengan pangeran impianku. Pastinya bukan keturunan penjajah dan orang jahat… tidak dengan panorama yang sementara ini dengan lingkungan asing, baru beberapa jam aku pergi dari rumah- namun aku begitu merindukan ayah dan ibu. Serta lana dan dewi yang lucu. Aku bagai putri salju yang terkurung dalam istananya yang dingin.
            Tuhan, ijinkan aku untuk pergi dari sini. Aku jijik dengannya… aku tak ingin bertemu dengan orangtuanya yang lebih mirip anjing daripada manusia itu.
            “aku tahu, aku tak akan memaksamu. Aku sadar aku telah melakukan kesalahan… lakukan sesukamu. Karena Cinta memang tak harus memiliki”.
            Aku kaget dengan ucapannya, cinta? Tahu apa Ia soal Cinta. Tak mungkin Ia mencintaiku. Namun aku menjadi beku ketika Ia masuk ke dalam. Dan bukan karena angin malam yang mencoba bermain-main denganku. Tapi aku merasa diriku yang menjadi dingin. Tak tahu akan semua ini, akupun kembali masuk ke kamar. Tapi Bondy sudah pergi. Lamunanku tak berjalan lama ketika cacing-cacing di perutku meminta jatah makanan. Tapi aku tak mau keluar, aku benar-benar ingin pulang.



0 komentar: