Aku
telah terbiasa dengan awan yang dingin, langit yang lapang dan hembusan
angin yang ramah. Banyak pelukis yang senang melukis tempat di mana aku
dilahirkan ini. Pemandangan yang elok menarik wisatawan asing maupun
dalam negeri untuk menengok ataupun refreshing di tempat seperti bumiku
ini. Aku bangga padanya… meskipun dengan gubuk sederhana dan peralatan
yang serba tradisional. Di rumah yang serba jarang-jarang itu aku
menghabiskan waktu. Saat ayahku sakit, aku menggantikan beliau mengurus
kebon... dan jika ada waktu luang aku menulis cerita berupa puisi,
cerpen, maupun novel. Padahal aku tak suka membaca buku, tapi entah
kenapa aku suka menulis. Dan aku berkeinginan untuk menjadi penulis...
seperti J.K Rowling, Stephenie Meyers, R.L Stine, Nora Roberts dan
lain-lain.
Seorang penulis itu menurutku jika Ia
seorang lelaki, ia tampak seperti ilmuwan. Ia pintar dan memiliki daya
imajinasi yang tinggi. Dan jika Ia seorang wanita... ia tak kalah cantik
dengan Miss Universe, emma watson, kristen stewart, agnes monika dan
artis cantik lainnya. Meskipun diandaikan saja... penulis adalah seorang
seniman. Seperti seorang artis... ia memiliki talenta seperti seorang
pemain sandiwara, ia memiliki talenta seperti seorang penyanyi, bahkan,
ia memiliki talenta seperti seorang pelukis. Meskipun dalam bentuk yang
berbeda. Aku menikmati pekerjaanku.
Aku takkan
mengatakan padamu tentang hal lainnya tentang aku, karena kau akan tahu
sendiri bagaimana sosok aku dalam kisahku.
Ketika
itu karirku sedang di puncak-puncaknya, namaku melejit sebagai penulis
fiksi populer di tanah air. Karya perdanaku menjadi bestseller book di
antara karya-karya penulis lainnya. Aku tak menyombongkan diri. Hanya
merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Karena itu, aku bisa
membayar biaya pengobatan ayahku di rumah sakit. Dan ekonomi keluargaku
tak bisa dipandang sebelah mata. Aku senang bisa membuat ibuku bangga.
Karena itu aku semakin termotivasi untuk terus mengembangkan diri.
Bahkan untuk soal cinta... tak menjadi hal yang penting bagiku.
Ada
yang bilang... pria bisa menghambat masa depanmu. Aku tak tahu. Tapi
seorang penulis adalah seseorang yang berani mencoba. Hal yang kata
orang berbahaya, dan semacamnya aku ingin membuktikannya. Tentu saja
dengan tidak melanggar bentuk idealismeku. Karena sangat aneh seorang
Laura-sang penulis Romance yang jadi idola itu tidak pernah merasakan
Cinta. Lalu apa artinya karya-karyanya?... apa hanya isapan jempol
belaka?... tentu saja aku tak ingin ada orang lain yang mengatakan aku
seperti itu. karena itu aku harus mencintai seseorang. Selain
orangtuaku...
Hal pertama yang kulakukan, aku
menyukai seorang pemuda bernama Damian, ia salah seorang editor di
sebuah Majalah Ibukota. Damian cukup tampan dalam mata tiap gadis yang
mengenalnya. Termasuk aku... tapi ternyata ia baik pada semua gadis.
Membuatku penasaran akan perasaannya padaku. Untuk itu kuberanikan diri
untuk menyatakan langsung padanya perasaanku. Dan kau pasti mengira aku
bodoh dengan tindakanku sebagai seorang wanita... apalagi untuk kali
pertamanya aku ditolak. Ia berkata menyukaiku sebagai sahabat. Tak
lebih. Karena sudah ada wanita yang disukainya. Ya. Aku tak peduli siapa
wanita itu, yang jelas aku merasa aku tak cukup menarik dalam mata para
pria. Karena hingga berumur 20 tahun... aku belum mempunyai pacar. Aku
menghibur diriku sendiri bahwa aku terlalu serius menulis. Hingga aku
sukses. Dan cuek pada masalah pria.
Dalam setiap
ceritaku aku selalu menuliskan kisah yang good ending, tanpa ada rasa
penyesalan dan patah hati. Aku merasakan rasa ”patah hati” mungkin sama
seperti yang dialami tiap orang. Yeah... cukup menyakitkan. Apalagi
untuk yang pertama kalinya...
Dan ternyata pria
tidak menghambat masa depan kita, tergantung cara pandang kita. Karena
ia memberikan kita pengalaman dan mengajarkan kita sebuah rasa ”Cinta”.
Meskipun berlebihan tapi hal itu ”ada”.
Dalam
menghadapi sebuah Cinta, kebanyakan orang cenderung untuk melanjutkan
rasa itu ketika cintanya bersambut. Dan akan menghentikannya jika
cintanya tak mungkin untuk Ia dapatkan. Dan naluriah jika aku akan
melupakan Damian. Bukan karena sebuah pelarian ketika aku bertemu dengan
seorang Pria tinggi, berkulit Sawo matang, dan bertubuh atletis di
sebuah Toko Buku di kotaku.
Saat itu aku tersenyum
melihat Karya-karyaku dipajang di depan etalase Toko Buku itu. tiba-tiba
saja seseorang memelukku dari belakang. Aku kaget setengah mati. Aku
merasa tak pernah mengenalnya. Ia hanya berkata,
”aku penggemar beratmu, boleh minta tanda tangan?”
Ternyata ia hanya salah seorang fansku, aku tak menyangka sama sekali.
Ia
tersenyum manis sekali, ”maaf membuatmu kaget, tapi aku ingin bertemu
denganmu lagi. Untuk sebuah relationship...”
Aku
memasang tampang Jaim dan mengambil buku yang ia berikan, aku
menandatangani buku itu sambil memikirkan apa maksud ucapan pemuda
tersebut.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Ia
pergi dari hadapanku. Gak sopan sih... tapi mampu membuat jantungku
berdegup kencang. So misterious . . .
Esoknya aku
kembali ke toko buku kemarin, dia ingin bertemu denganku lagi. Dalam
benakku menari-nari ”Seorang Idola jatuh cinta pada fansnya”. Sebuah
gagasan yang lucu...
Melalui seorang pramuniaga toko
aku diberikan nomer hp pemuda kemarin, karena penasaran aku
menelfonnya. Ia berkata sedang berada di taman kota... akupun kesana. Di
sana ia menunggu dengan mobilnya. Ia keluar dari mobil setelah
melihatku.
”kau gadis beruntung, bolehkah aku membuatmu semakin beruntung?” ujarnya saat berada di hadapanku.
”apa yang kau lakukan?!” jawabku emosi.
”aku Cuma ingin membuat karya-karyamu menjadi sebuah film, bagaimana?” ucapnya tegas.
”oh, kenapa tidak bilang dari awal?” rasa penasarankupun berangsur hilang.
”mari kita bicarakan di sana. Rileks saja...” ia menunjuk kursi taman di sudut sebuah pohon beringin...
”ok, so... bagaimana kita memulainya? Kau ingin memakai aku sebagai sutradara atau bagaimana?” tanyaku santai.
”kau wanita yang to the point, ya. Bukan hanya sutradara… aku ingin kau menjadi pemainnya”.
Aku mengamati ekspresinya, ia pemuda yang polos. Masih muda tetapi terlihat multitalented.
”aku belum pernah bermain film, kalau filmmu tak sukses bagaimana?” aku tertawa renyah.
”kau
kalah sebelum bertanding, tapi aku percaya padamu. Dibalik sosok wanita
yang perfect itu tersembunyi ketidakpercayaan diri...”
”berhentilah menilaiku!!, aku pergi!!”
”tunggu!!!” ia menarik tanganku, aku menepisnya.
”jangan sentuh aku!!” aku mengacuhkannya.
”maafkan aku, tapi aku menyukaimu. Meskipun kau seperti itu...” ia tersenyum membuat hatiku berdesir.
”kau merayuku?!” tanyaku marah.
”tidak, aku berkata jujur” wajahnya bersemu merah.
”kau hanya menyukaiku sebagai sosok idola karena ceritaku, bukan karena ”aku”!” ujarku.
”baiklah,
aku akan membuktikan padamu bahwa rasaku padamu bukan rasa seorang fans
pada idolanya. Tapi seorang pria pada seorang wanita...” sebelum aku
menjawab ucapannya ia menarikku ke dalam mobilnya. Dan ia mengendarainya
melesat menuju ke arah perkotaan...
”kau mau apa?!” perasaanku campur aduk.
”tenang saja, aku takkan melukaimu. Aku tak mencintai wanita yang salah...” ia tersenyum di spion mobilnya padaku.
Aku
sedikit tenang. Tapi aku sungguh penasaran padanya... bahkan aku belum
tau namanya. Dia mengajakku bermain film dan tiba-tiba saja menyatakan
perasaannya padaku. Aku sangat bingung... dan saat ini... ia membawaku
ke tempat yang aku tak tahu. Dan dia seorang pria yang sangat elegan.
Jauh... jauh lebih sempurna dari Damian... cewek mana yang tak akan suka
padanya?. Ya, aku rasa ada. Kecuali aku. Bagiku dia psicho atau
sejenisnya...
“ini pantai pure”
Aku terbangun dari tidurku dan terpana melihat pemandangan di depanku.
“bukannya mau menggombal, tapi kau lebih cantik dari pantai ini” sekarang ia tersenyum padaku.
“aku ingin pulang!!” aku turun dari mobil dan berbalik meninggalkan pantai.
Dia
mengejarku dan menggenggam tanganku setelah mendapatkan aku, ”Laura!!,
aku buka cowok gila!!. Aku serius!!!” ia penuh emosi.
”oke-oke,
aku percaya!!. Tapi apa maksudmu?! Katanya kau ingin buat film dari
karyaku dan lain-lain!!. Tapi kenapa malah menyatakan perasaanku dan
membawaku ke sini?! Hah?!” suaraku terkalahkan oleh suara ombak.
Ia terdiam, kemudian berbicara lambat.
“iseng-iseng
aku membaca Novelmu, dan aku jatuh cinta di dalamnya. Aku bukan seorang
pria yang melankolis... tapi jujur... aku suka dengan cara kamu
bercerita. Sangat hidup... dan ketika melihatmu di Televisi... kau
secantik karyamu. Dan ketika itu aku bertekad untuk mendekatimu. Aku
seorang produser. Dan tiba-tiba saja aku berfikir untuk memfilmkan
Novelmu. Bahkan karya-karyamu yang lain. Apa aku salah?”
Hatiku tersentuh, Tuhan... apa ini Cinta?... cinta pertamaku.
Untuk pertama kalinya aku tersenyum padanya, dan menggandengnya kembali ke pantai.
”Laura, kau mau menerimaku sebagai kekasihmu?” tanyanya.
Aku memperhatikan matahari yang tenggelam di lautan, menikmati momen ini. Aku menghela nafas sebelum menjawab...,
”iya, setelah kau memberitahukanku Namamu”. Aku tersenum padanya. Tulus...
”Leo”
”baiklah Leo, hari ini Laura Narissa Dewi menerimamu sebagai kekasihnya”
Leo
berteriak pertanda kegembiraan dan menggendong tubuhku sambil berlari
di pantai. Pantaskah aku untuk mendapatkan kisah yang indah ini?...
Singkatnya,
seperti orang kebanyakan aku merasakan kata ”pacaran”. Dan aku
bahagia... dan usia pacaran kami telah menuju usia satu tahun. Ia benar
menjadikan aku sutradara di filmnya... akupun semakin terkenal setelah
memainkan peran di film Leo. Dan namanya pun terkenal karena film yang
aku mainkan itu. Kita sama-sama bekerja sama karena Cinta.
Ketika
masa liburan, seperti biasa aku bermain ke rumah Leo. Tapi anehnya ia
tak ada di rumah... kata salah seorang pekerja kebun... leo telah
menjual rumah itu dan pindah. Aku merasa tak biasanya leo begini... ia
selalu mengatakan padaku tentang segala hal apalagi untuk hal beginian.
”Nona, tapi mas Leo menitipkan ini pada saya. Silahkan...”
Aku
menatap amplop coklat dari tangan pak kebun. Aku menerimanya dengan
perasaan yang tak menentu. Dan aku baca saat itu juga...
Dear Laura...
Maafkan
aku, aku terpaksa melakukan ini. Mungkin aku adalah iblis bagimu
setelah kau mengetahui ini. Mungkin bagimu aku adalah pria yang jahat
dan tak berperasaan. Kau boleh membenciku. Aku terima dengan sepenuh
hati... karena aku memang pantas mendapatkannya...
Satu
tahun yang lalu keluargaku hancur. Ayahku bercerai dengan ibuku dengan
meninggalkan hutang yang sangat besar. Akupun jadi stres dan karirku
berpengaruh. Tak ada tempat bagiku untuk berbagi... aku merasa benci
pada ayahku dan tak tahan melihat kesedihan ibuku. Aku terpukul dan
namaku sebagai seorang produserpun tenggelam.
Lama
aku berfikir bagaimana caranya agar aku bisa membuat film lagi, tak ada
jalan. Saat itu namamu sedang terkenal. Aku mempelajari latar
belakangmu... dan aku mendekatimu. Dan usahaku berhasil. Aku bisa
membuatmu jatuh hati padaku hingga kau bisa menjual filmku. Aku untung
banyak karena itu dan banyak orang yang kembali percaya padaku. Bisa
dikatakan aku memanfaatkanmu. Selamat datang di Dunia laura... inilah
dunia hiburan... dan tentunya kau bisa menulis dengan pengalamanmu itu.
Terima
kasih sebesar-besarnya. Jangan cari aku. Lupakan saja sosok Leo di
hatimu. Aku bukan pria seperti itu. Inilah aku yang sebenarnya
Leo
Aku
menjatuhkan surat dari Leo di rerumputan rumah yang telah dijualnya,
aku berlari menuju mobilku. Aku menangis selama perjalanan. Sopirku
mencoba untuk menenangkan aku. Tapi aku hanya menjadikannya sountrack
dalam adeganku yang miris. Sakit sekali.
Dia yang
seharusnya kubenci, masih di sini. Kepalaku terasa berat dan mataku
membengkak tiap hari. Aku tak bisa menggambarkannya. Bahkan aku tak
menulis lagi. Hilang moodku untuk menulis. Semua buntu. Orang-orang
sekelilingku mencoba untuk memperhatikanku. Tapi aku hanya mengurung
diri di kamar... namakupun telah tenggelam. Mungkin aku menggantikan ia
yang dulu, sebelum bertemu aku. Aku memang bodoh. Percaya begitu saja
dengannya. Tapi entah kenapa aku tak menyesal. Ya, aku memang bodoh. Tak
menyesal meskipun telah ditipu habis-habisan dengannya. Tapi kenangan
tentang dia... selalu membuatku terdiam!!.
Satu
setengah tahun kemudian, keadaan masih tetap sama. Masih di rumah yang
sama. Masih orang yang sama dan perilaku yang sama. Orangtuaku
mencemaskanku. Mereka kini ingin mencari sosok Leo. Ingin membunuh yang
telah membuat anaknya menjadi mati seperti ini. Aku memang merasa mati.
Hal yang membuatku ingin keluar rumah pertama kali adalah ketika
mendengar ada berita infotainment menginfokan akan leo. Filmnya telah
terbit dalam skala internasional. Aku mendatangi alamat pihak
infotainment itu... menanyakan keberadaan Leo. Mereka histeris dan tak
ada yang menjawab pertanyaanku. Aku tak perduli apa penilaian dunia
tentang aku. Aku tak terima diperlakukan seperti ini oleh pemuda yang
kusayangi itu!!.
Akupun masih menunggu. Dan tak
disangka Ia sendiri yang menemuiku. Ia semakin terlihat berbeda. Lebih
gagah dan menarik. Hal yang membuatnya berbeda adalah dia bukan Leo yang
kukenal. Tapi sosok Leo yang ambisius dan ular.
”kau sudah mendengar beritaku”. Ujarku tanpa ekspresi.
”kau
berantakan sekali, tak seperti sosok ”Laura”. Aku datang bukan karena
itu... aku hanya ingin memberikan ini...”
Aku tak terbiasa dengan nada dingin suaranya dan melihat kertas bewarna keemasan di atas meja.
”maafkan
aku, Ra’. Datang ya nanti... aku tak ingin di anggap jahat oleh media.
Beraktinglah kau tidak apa-apa di hari pernikahanku. Tentunya pasti
nanti akan ada banyak wartawan yang akan bertanya padamu”.
Aku
berdiri menatap tajam matanya, ”kau pikir aku rela diperlakukan seperti
ini denganmu?! Aku akan berkata pada wartawan apa yang sebenarnya!!!
Kau tak bisa memanfaatkanku lagi!!!. Biar semua orang tahu... bahkan
calon isterimu!!!. Biar dia tahu seperti apa sosok Leo yang
sebenarnya!!!. Aku masih menyimpan suratmu!!!. Bukti autentik dari semua
ini!!!. Namamu akan jatuh Leo... dan filmmu sekarang akan gagal...!!!
kau akan rugi besar!!!” aku meninggalkannya dalam rasa sakit yang
teramat dalam. Semua itu karena Cinta...
”Laura, aku
mohon!!. Jangan berbuat hal itu!!. oke-oke... aku janji. Apa yang harus
aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu?...” leo tampak khawatir.
”tak
ada!!, sakit hatiku akan terbalaskan jika aku melakukan itu!!!. kau
hancur bukan karena aku, Leo. Tapi karena perbuatanmu sendiri!!. Bibi...
tolong usir orang ini dari rumahku!!!”. teriakku dingin.
”Laura... aku mohon!!!. Aku akan melakukan apapun!!!. Tolong aku laura...”
Aku
tak menghiraukannya ketika ia ditarik secara paksa oleh pembantu dan
satpam yang bekerja di rumahku. Aku mengintip dari jendela ketika ia di
dorong hingga jatuh ke aspal jalan.
Cinta membuatmu
menghalalkan segala cara, ia membuatmu menjadi seorang pembohong. Ia
membuatmu menjadi seorang yang jahat. Ia memperdayamu menjadi orang yang
bodoh. Dan ia tak kenal lelah... ia membodohimu. Ia seorang penghianat
dan munafik. Aku tak percaya pada cinta lagi. Dan mungkin takkan menulis
lagi. Apalagi karena ”Cinta”. Semua itu karena dia. Kini aku tahu Bukan
pria yang bisa menghancurkan masa depanmu. Tapi lebih tepatnya
”Cinta”...
Pada hari itu aku membawa undangan
pernikahan Leo tanpa pernah membacanya. Aku tak sanggup melihat nama
seorang artis ataupun pengusaha. Ataupun nama seorang model yang
terkenal... aku tak perduli media melihatku sebagai wanita yang
menyedihkan hari ini. Yang kuinginkan Cuma satu... dan kau akan
mengetahuinya nanti. Tebaklah...
Para wartawan
menembakku dengan pertanyaan-pertanyaan ketika aku datang. Ada yang
menanyakan, ”bagaimana perasaanmu menghadiri pernikahan Leo?”, ada lagi
yang bertanya, ”apa kau tahu siapa wanita yang akan mendampingi Leo?,
bahkan ada yang bertanya, ”apa kau akan membunuh leo karena telah
menjahatimu?”. ternyata gosip-gosip tentang aku dan leo telah ada di
masyarakat. Ketika kau menjadi salah satu massa dalam kisahku, kau pasti
takkan beranjak dari layar televisi dan menonton dengan mata yang
melotot tajam dan jantung yang berdegup kencang. Dan esoknya kau akan
mencari berita tentang aku dan menghasilkan omset yang besar pada media
komersil. Karena kisahku memiliki nilai berita yang tingi.
Aku
tak melihat Leo, namun aku ditarik oleh beberapa orang dan dikurung
dalam sebuah ruangan!!. Apa aku tengah diculik??. Leo sangat culas...
tentu saja ia tak akan membiarkanku berucap sepatah katapun pada media.
Namun... tiba-tiba saja aku didandani dan dipakaikan baju pengantin!!!.
Aku sangat kaget dan bertanya-tanya. Apa ini salah satu permainan Leo
untuk memperdayaku lagi?. Kembali perasaanku berkecamuk. Kemudian mereka
memaksaku kembali ke pesta dan bertemu Leo!!!.
”kau
lebih cantik dari Laura yang kukenal dulu” ia tersenyum dan mencium
tanganku. Para tamu heboh melihat apa yang kami lakukan. Aku sendiripun
syok sekaligus skeptis.
”apa katamu?!” aku melepaskan tanganku dari genggamannya.
”Laura,
maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan padamu. Suratku satu
setengah tahun yang lalu itu bohong... sebenarnya... aku udah lama punya
penyakit kanker otak. Aku merasa aku akan mati. Karena itu aku tak
ingin melihatmu melihatku dengan kondisiku seperti itu. aku terpaksa
berbohong padamu dan menghilang dari hidupmu. Waktu itu aku pergi ke
luar negeri untuk operasi dan menjalankan pengobatan di sana. Meskipun
jauh aku selalu mengamatimu. Dan aku sedih karena tahu kau tak punya
semangat hidup. Karena itu aku bertekad untuk sembuh. Aku ingin
membuatmu bahagia kembali. Aku ingin melihat senyum mahalmu lagi. Aku
merindukanmu, Laura” Leo memelukku erat.
Aku seakan belum bangun dari tidur. Tak percaya pada apa yang kudengar...
“aku... aku tak tahu harus percaya atau tidak pada apa yang kau katakan!!”
“terserah
kamu, Laura!!. Aku sendiri tak percaya bahwa Doaku dikabulkan Tuhan!!!.
Ia membuat aku kembali... hingga tiga minggu yang lalu aku bisa
menemuimu setelah mempersiapkan semuanya!!!. Aku tahu akan reaksimu!!!
Dan aku juga tau orangtua kamu pasti tak akan mengijinkan anaknya
menikah dengan orang sepetiku!!. Jadi... aku melakukan semua ini untuk
memberi kejutan padamu. Kalau kau tak percaya kau boleh membuka undangan
pernikahan yang kuberikan padamu!!. Disitu tertulis namamu. Aku yakin
kau tak membukanya... dari wajahmu. Sekarang... terserah jawabanmu. Yang
jelas... ada satu hal yang aku tak berkata bohong. Aku menyukaimu sama
seperti dulu!!. Bahkan lebih dalam...”
Aku membuka
surat undangan pernikahan yang tadi Leo katakan, ternyata memang benar
ada namaku. Semua bisa dimanipulasi... bahkan hati manusia... tapi aku
percaya pada diriku sekarang. Bahwa aku tidak akan menyayangi orang yang
salah. Sama seperti apa yang ia ucapkan dulu waktu di mobil. Dan aku
menerima ajakannya untuk menikah. Semua di luar rencana. Tapi begini
lebih baik. Happy ending... dan aku akan menulis kisahku. Kembali.
Pelajaran yang kudapat... jangan pernah berhenti pada impianmu.
Sekalipun banyak halangannya.
Fitriana S
TOLONG dkasih comment dan sarannya y teman2 hehe , thanks :)
0 komentar:
Posting Komentar