Wanita itu masih kelas dua SMA saat aku
mengenalnya. Seorang wanita yang cantik, baik hati dan pintar. Namanya
adalah Larenna Utami. Nama yang mencerminkan dirinya dan aku sangat
menyukainya.
Sudah tiga tahun lamanya aku mendekatinya. Dan aku
berhasil mendapatkannya juga hatinya: tapi ternyata ia tak seperti yang
kukira, ia seorang petualang cinta, dan tidak berasal dari keluarga yang
baik-baik, dan prinsip hidup kita ternyata berbeda jauh. Dan sejujurnya
karena perasaanku padanya aku menerimanya apa adanya, hingga aku
benar-benar tak tahan dengan sikapnya padaku. Aku mencoba untuk
meninggalkannya meskipun aku pernah berjanji takkan pernah
meninggalkannya. Ia menangis dan berkata padaku bahwa akulah cinta
sejatinya. Tapi aku sudah tak percaya lagi padanya, dan aku mencoba
untuk menghapus semua tentang dia. Tak masalah baginya, dia akan gampang
mendapatkan penggantiku. Karena selama ini banyak yang menyukainya
juga. Dan aku berhasil menghapus dia dari kehidupanku.
Sudah satu
tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya. Dan aku memulai hidupku yang
baru dengan perasaan bebas., saat beres-beres kamar-aku menemukan sebuah
foto yang membuatku sangat terkejut.
Seorang gadis yang sangat
cantik tersenyum di sana dengan manjanya. Dia membawaku pada memori SMA
yang takkan pernah kulupakan. Dan gadis itulah yang bisa membuatku jatuh
cinta padanya, bahkan Larennapun tak bisa menjadi seperti dia. Dan baru
kusadari bahwa aku telah membohongi Larenna. Bahwa aku hanya mencintai
wanita itu dan bukan mantan pacarku itu. Dan sejak itu aku mencari tahu
bagaimana sekarang keadaan gadisku. Melalui seorang teman aku baru tahu
bahwa ia akan menikah, hatiku hancur seketika. Ia masih bisa kulihat dan
kudengar… dan aku mencoba menghubunginya, tapi ia tak mengakui berita
itu. Hatiku berat… tak ingin ia bersama cowok lainnya. Aku hanya bisa
mencintainya dalam hati.
Pembohong
Munafik
Jahat
Aku
membaca sms yang aku tahu dari Larenna, terserah apa yang akan ia
katakan padaku. Aku tak perduli lagi padanya. Aku takkan pernah
memandangnya lagi. Seperti dulu. Biarkan ia perih, biarkan ia menangis.
Aku ingin tahu bahwa ia tak pernah penting dan tak kukenal dalam
hidupku…
Aku tak pernah mengingatnya. Aku tak pernah merasa pernah
bertemu dengannya. Tak pernah menatap matanya dan berbicara padanya. Tak
pernah mengejarnya dan tak pernah tidak menyerah agar dia menyukaiku,
dan aku tidak pernah sakit hati padanya. Biarkan ia mengenang
bayang-bayangku yang pernah mengukir kisah indah dalam hatinya. Tangis
dan tawa hanya dia yang tahu.
Menjelang hari ulang tahunku aku
kembali ke kota tempatku belajar. Aku berbaring santai di kasurku yang
empuk. Sayup-sayup aku mendengar seseorang di pintu kamarku. kubuka
pintu dan melihat siapa yang datang… seorang gadis dengan rambut terurai
panjang menatapku dalam. Tak mengira ia berdiri di hadapanku. Ia memang
cantik. Dengan mata birunya yang mempesona. Ia telah berubah, menjadi
sosok yang anggun dan berbeda dengan dirinya. Aku melihat kado di
tangannya, dan berusaha untuk tetap acuh padanya.
"ada apa?!" tanyaku dengan nada tinggi.
"Bernard… selamat ulang tahun yach!!!" gadis itu tersenyum perih.
Bisa kutahu dari nada suaranya bahwa ia sangat sedih.
"makasih!!!" ujarku tak perduli.
Ia menjulurkan sebuah kado kecil yang terbalut dengan manis di
tangannya, "untukmu, diterima ya? Jangan dibuang… ini hatiku yang paling
dalam. Jaga hatiku baik-baik. Jangan diberikan pada orang lain. Aku
akan melupakan semuanya. Dan semoga terakhir kali ini aku mampu…" ia
meneteskan air mata.
Aku masih terdiam di tempat, tanpa sedikitpun
menatap matanya. "oke, udah selesai?! Aku ada acara!!!" aku berusaha
melawan perasaanku.
Ia tersenyum perih.
"kau memang bukan
seseorang yang sempurna, tapi kau menyempurnakan hidupku. Aku memang tak
baik untukmu. Wanita itu yang memilikimu… dia sangat beruntung. Aku
bahagia jika kau bahagia, Bernard. Aku sungguh-sungguh menyayangimu"
gadis itu berlari meninggalkanku.
Aku hanya menatap kado dari dia di
lantai, berusaha menghapus apa yang barusan terjadi. Aku segera pergi
dan meninggalkan kado darinya tanpa kusentuh sedikitpun.
~~~
Ya tuhannnnnnn……………., mengapa kau menganugerahkan cinta yang tak bisa
kumiliki???. Harus bagaimana lagi agar aku bisa melupakannya. Apa aku
harus mengejarnya seakan perempuan yang tak memiliki harga diri??? Dan
ia akan semakin membenciku dan menjauh. Oke, mungkin dia bukan jodohku,
biarlah ini menjadi kenangan pahit yang pernah kumiliki. Kini aku ingin
berubah. Tak ingin mempermainkan cinta lagi. Tak ingin menyakiti lagi.
Sekarang ada dua orang disampingku. Seorang pria yang tampan dan baik
hati. Dan yang satunya lagi adalah teman Bernard yang mirip banget ma
dia. Karena itu aku juga menyukainya. Aku tidak boleh egois… aku harus
memilih salah satu dari mereka dan membuka hatiku pada pilihanku nanti.
Tapi aku takut, aku takut untuk menyakitinya. Tapi aku juga tak ingin
mendua. Sudah banyak perasaan yang kusakiti. Hanya karena seseorang
bernama Bernard!!!
Aku melihat kembali kado dari Larenna.
Dia memang menjadi wanita yang pertama menjadi kekasihku. Tapi bukan
berarti segalanya. Ia mengajarkanku banyak hal. Bahwa di dunia ini tak
ada yang abadi. Tak ada yang sempurna, kecuali Dia.
Dear my greatest love,
Seorang wanita yang paling sempurna dan yang mengisi hatiku selama ini.
Udah sejak lama aku menginginkanmu, mendewasakan hatiku dengan
kelembutanmu. Memaki diriku bersamamu. Telah habis jiwa dan raga ini
kembali padamu. Dan kutahu takdir tak berpihak padaku. Kuyakini bahwa
perasaanku hanya tersimpan saat kubersamanya.
Seseorang yang tak
seharusnya ada. Seseorang yang menambah lukaku. Jujur aku pernah berbuat
hal bodoh karenanya. Bahkan aku menjadi orang lain demi dia. Aku
mempermalukan diriku sendiri bahwa dia yang paling tak ingin ku
kehilangannya. Demi waktu… aku menyesal. Aku kehilangan arah. Aku
membuat tubuh ini bertambah parah… semua ini karena Larenna. Larenna
yang sangat aku benci.
Aku ingin kembali bahagia dengan jatuh cinta padamu lagi… Lara.
Bernard
Aku kembali berkonsentrasi pada laptopku, aku mengutak-atik photoshop
mendesign foto seorang wanita. Lara. Dan akan kutaruh di album
facebookku. Ia akan selalu ada, dan aku ingin semua orang mengetahuinya.

0 komentar:
Posting Komentar