CERITA PERTAMA
Aku melihat pada kegelapan,
namun pikiranku tak di sana. Aku mencintai dia… namun Ia bukan untukku. Aku
berdoa dalam tidurku, aku menyanyikan lagu kehilangan.
Dan membayangkan mereka semua memandangku, aku bernyanyi untuknya. Terlihat sedih dan mau menangis… tiba-tiba aku berangan ingin menulis kisahku. Kata orang cinta tak harus memiliki. Ya… dia begitu baik.
Ketika kubutuh inspirasi, aku melihat sebuah album biru hadiah ultah dari mamaku ketika aku kelas tiga SMP. Awalnya aku kecewa mama memberikanku hanya sebuah album foto… namun mama berkata dalam,
“mulai sekarang kau bisa menempelkan foto-fotomu di sini, hingga kau dewasa. Kau bisa melihat bagaimana kau kecil… hingga dewasa”
Mama benar. Sederhana tapi berarti, aku kini telah dewasa. Atau lebih tepatnya ‘aku akan dewasa’. Kumulai membuka album biru itu yang hingga kini masih kusimpan dengan baik, halaman pertama adalah kumpulan foto di rumah tanteku. Unik dan berseni, ada fotoku dengan si Miaww. Kucingku yang paling aku sayang…
Seperti dia yang akhirnya berpisah.
Namun ketika membuka halaman kedua, jantungku seakan berhenti.
Ada foto besar dengan tema alam. Alam kampus sih, tapi di situ ada dia. Dia menggendong aku, kulihat diriku terlihat cantik meski lemak di sana sini. Ia terlihat sangat ceria dan lucu. Aku ingat foto itu diambil demi pembuatan filmku. Untuk tugas kuliah aku jadi pemeran di film itu. Hanya aku dan dia. Namun film itu kini tanpa jejak. Aku menghapus semua tentangnya dan dia juga menghapus semua tentangku. Karena itu aku kaget mengapa aku masih punya fotonya.
Sepertinya Tuhan mengerti aku, sebelum aku melihat album biru itu, aku ingin masih menyimpan fotonya. Bukti bahwa ia pernah ada di hidupku. Satu-satunya foto yang tersisa…
Namun hatiku tak seperti dipukul-pukul sekarang. Karena aku sadar… dengan mengenangnyalah aku bisa mengiklaskannya. Dengan mencintainyalah aku bisa tenang.
Aku biarkan diriku tenggelam oleh kesedihan. Cinta tak harus memiliki… dan aku harus bersyukur aku pernah bahagia karena dia. Dia yang menjaga aku, yang sayang padaku hingga kini. Dia yang selalu memarahiku di saat aku salah, dia yang tak tahan jika aku sedih. Ya Tuhan… tak tahan kuteteskan air mata ini. Dan kuharap ia bisa membacanya.
Kututup foto kita berdua, aku melihat foto-fotoku ketika SMA. Aku aktif di Ekstra kulikuler, Osis, hingga berprestasi. Sebelum bertemu dengannya… kemarin aku marah pada Tuhan, mengapa di saat aku mencintai seseorang- Ia mengambilnya. Namun aku mengerti sekarang, suatu kesedihan itu adalah kebahagiaan juga. Membuat kita selalu bersyukur padaNya… agar kita tak menyia-nyiakan seseorang yang mencintai kita. Karena Ia bisa mengambil rasa yang begitu kuat begitu saja, atau membuatnya terhunus perasaan yang membunuh.
Aku tersenyum dalam hati, dengan luka yang ada dalam diriku. Cinta membuat kita hidup… jika kita mengerti makna cinta itu sendiri. Aku mencintaimu, dengan perbedaan yang kita miliki. Dan aku mencintaimu dengan keputusan yang kau ambil, dan aku mencintaimu meski kita terpisah oleh jarak dan waktu. Dan hanya Tuhan yang tahu kelanjutan kisah ini.
Tuhan memberi kita CINTA, bukan untuk keburukan. Bukan untuk menyakiti, bukan pula untuk membunuh. Tapi agar kita selalu mengingatNya… karena hanya Dialah pemilik CINTA yang sesungguhnya. Dan Ia telah memberikan sedikit CINTAnya untukku, dengan aku mengenalmu dan mengenangmu.
Lembar ketiga adalah foto masa kecilku, begitu ceria, bisakah aku seceria dahulu saat ini?. Begitu imut-imut, sekarangpun masih imut-imut hehe. Aku ada karena CINTA Orangtuaku. Aku tak boleh menyesalinya. Aku harus bangga karena orang-orang hebat seperti mereka, membuat aku seperti sekarang. Aku harus tegar- Cinta hanya ujianku. Harus dijalani dan tetap fokus pada tujuan utamaku. Aku yakin Tuhan mengirim dia tadi malam, agar aku menemukan jalanku. Tujuan hidup, yang lama tak kuketahui, mengikuti arus seperti air. Ia mampu membuktikan bahwa Ia mampu, sukses dan keras pada diri sendiri. Akupun harus begitu. Ya , aku akan mengikuti jejakmu.
Kita bersama dalam hidup, tetap ceria dan jadi apa maumu.
+++++
Cerita ini berawal dari siang itu, aku makan siang di sebuah warung kecil dekat kosku. Setelah memesan makanan, aku melihat beberapa orang pemuda yang melihat ke arahku. Namun ada satu pemuda yang asyik membaca Koran… tubuhnya tinggi dan nggak begitu tampan, ia terlihat dingin meski hatiku tersenyum melihat tingkahnya yang sesekali melirikku.
Dia nggak mungkin menyukaiku, ucapku dalam hati. Dan aku melupakannya.
Hari-hariku sibuk dengan kuliah sambil bekerja. Sesekali aku main dengan teman-temanku, ketika aku bekerja shift malam-aku melihat seorang pemuda datang ke arahku.
Sambil sumringah ia menyapaku, “kayaknya aku pernah ketemu dengan mbaknya, deh”
Karena aku harus ramah dengan Client- akupun membalas sapaannya,
“kayaknya aku juga pernah liat masnya deh, tapi di mana ya?” akupun sibuk melayani Customer yang lainnya. Aku merasa ia memperlama di dalam rental, hingga sepi ia mendekatiku lagi. Begitulah awal aku mengenalnya. Aku merekomendasikan film Twilight padanya, karena aku juga sedang menyukai film itu. Esoknya Ia mengirim sms untukku, menuliskan komentarnya akan film itu. Akupun senang karena aku sudah membaca semua novel-novelnya. Kita mulai dekat dan sering bersama-sama.
Aku tak percaya Ia menyukaiku setelah Ia menyatakan rasa sukanya padaku, saat itu tepat sehari setelah ulang tahunku. Ia memberikanku kalung berbandul kucing, karena Ia tahu aku suka kucing. Aku senang banget tapi saat itu aku menolaknya, baru setelah ia menyatakan perasaannya padaku sebanyak empat kali- aku menerimanya. Kita sering ngobrolin banyak hal dan dia selalu membuatku ketawa, aku yang kaku bisa menjadi seperti anak kecil di depannya. Andaikan perjalanannya sama seperti saat kita awal-awal bersama…
Kita dengan gampang menilai orang lain, tapi kita sulit untuk menilai diri kita sendiri. Itu yang kubaca status temanku di facebook, ya. Aku begitu mengenalnya tetapi aku tak bisa menilai diri sendiri. Seperti air aku menenggelamkan tanah, seperti air emosiku tak stabil, ia yang keras membuatku terpojok dan sering memutuskannya. Dan semua itu telah menjadi cerita yang tak bisa diulang. Akupun tak berhak meminta tuk kembali, karena ia telah lelah. Dan kita tak mungkin untuk bersama.
Pasti ada seseorang yang bisa menggantikannya, aku yakin itu.
Aku rindu saat-saat aku masih kecil, aku berada di suatu tempat yang sangat berbeda dengan di sini. Namun aku mendapatkan kasih sayang yang hingga kini aku rindukan, mbah kakung, nenek dan tante Rurik. Di rumah besar nan rapuh… kegelapan namun tak ada lagi bayangan-bayangan itu. Karena mereka telah pergi… namun nenek selalu muncul dalam mimpi-mimpiku, betapa aku ingin bertemu dengannya dan merindukannya. Namun aku hanya bisa mengunjungi makamnya, suatu saat. Dan bila telah waktunya tiba, aku bisa melepas rasa rinduku ini bersamanya.
+++++
Foto ke empat masih sama. Fotoku saat kecil. Styleku berbeda-beda. Ada fotoku yang memalukan, bahkan yang paling manis menurutku. Aku yang dulu ketika SMP kurus, dan polos. Hingga bermetamorfosis menjadi gadis yang mirip Chinese… kata orang sih… dan ketika rambutku masih hitam legam berfoto bersama teman cowokku. Aku cantik juga di foto itu, satu persatu kuperhatikan- hingga lembar terakhir. Sisi dewasa dan kanak-kanakku, aku bimbang memilih yang mana. Yang jelas aku bersyukur, dan aku sadar Tuhan menyayangiku…
Aku mengesave curhatanku di komputerku, aku mematikan layar monitor dan membereskan buku-buku dan album fotoku. Aku harus segera tidur karena besok harus bangun pagi-pagi- kuliah. Aku ingin belajar yang rajin agar aku bisa mendapatkan beasiswa. Aku ingin menolong mama- dan tak mengulangi kesalahan yang sudah lalu-lalu. Hidupku mulai detik ini pasti lebih baik, aku bersyukur saat ini ada pemuda yang menyayangi aku. Aku takkan menyia-nyiakannya lagi- menunggu sampai nama Rio hilang dari hatiku.
Aku pasti bisa berarti untuk diriku sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar