Rss

Jumat, 15 Juni 2012

Diary Lara



2012



Oleh: FitriAnNA S


THE BEGIN
[Diary Lara]
Terkadang hidup tak seperti keinginan kita, tapi yang harus kita yakin- Tuhan memberikan yang terbaik. Meskipun terlambat buat kita untuk menyadarinya…

            Kau telah memasuki duniaku, Dunia yang Ibuku tanamkan padaku untuk kugali. Untuk kucintai… bersama orang-orang yang mencintainya juga.
            Pernah kumembaca sebuah cerita pendek di suatu majalah, bagiku penulisnya adalah orang yang hebat. Karena tulisannya bisa dipublikasikan dan dibaca semua orang. Aku ingin seperti dia, karena itu aku bergabung di Club Jurnalistik di SMAku. Tak terasa sudah dua tahun aku mengukir nama untuk sekolahku, aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan sastra dan menulis di Majalah Nasional. Aku bisa mandiri dengan uang yang kuperoleh… ibuku di alam sana pasti bangga denganku.
            Rumah yang kutinggali sekarang jauh dari pusat kota, rumah kecil yang dihuni oleh Ayahku dan Ibu Tiriku. Aku tak terlalu menyukainya karena dia selalu masam jika berhadapan denganku. Seperti saat ini…
            “darimana kamu, Lara?!” ia berdiri dari tempat duduknya dan menantangku.
            “abis pulang sekolah, seperti biasa, bu” aku berbohong, karena jika ia tahu aku ikut kegiatan Club, ia pasti marah. Karena warungnya sangat ramai, aku sebagai anak satu-satunya diwajibkan membantunya setelah usai sekolah.
            “sekarang sudah hampir jam 07.00 malam!!!, kau katakan pulang sekolah?! Maksudmu main setelah pulang sekolah?! Pacaran hingga jam segini?! Ibu nggak ada yang membantu!! Kamu sebagai anak nakal sekali”
            Dadaku rasanya berat, tapi aku tak bisa melawannya karena aku sadar aku egois.
            “Ibu udah bicara sama Ayahmu, lebih baik kamu dikoskan saja. Biar kamu tau bagaimana rasanya hidup tanpa Ayah dan Ibu… bagaimana rasanya hidup mandiri!!”
            Aku kaget, “apa?, saya nggak ngerti, bu”
            “bereskan pakaianmu, ibu udah nyariin kos-kosan yang cocok untukmu. Bagaimanapun pergaulanmu di sana… sudah tanggung jawabmu sendiri. Kau sudah besar…”
            “tapi Ibu nggak bisa membuang saya hanya karena saya nggak membantu Ibu selesai sekolah…” aku terisak.
            “bukan hanya itu, lihatlah warung kita!!!. Kotor sekali dan berantakan… bayangkan kalau kau harus mengurus ini sendirian… ibu tahu Ibu bukan Ibu kandungmu. Tapi seharusnya kau tahu siapa yang membesarkanmu selama ini. Ibu tak berharap balasan… tapi setidaknya kau menganggap Ibu seperti Ibu kandungmu sendiri… kau sudah delapan belas tahun, Lara. Sudah seharusnya kau mengerti” ibu pergi naik ke atas. Meninggalkanku di ruang keluarga… bahkan akupun belum meletakkan tas sekolah.
            Aku tak sanggup untuk masuk ke kamar, ayah melihatku dengan tatapan kecewa. Perasaanku sakit sekali… aku berlari keluar rumah. Seperti biasa ke tempat sedari kecil aku kunjungi ketika kusedih. Bukit bintang aku menyebutnya karena ketika malam pemandangannya sangat indah, sepi dan aku bisa menangis sepuasnya.
            “heyy, ada adikku menangis sendirian di sini. What’s up, girl?” Tony menghampiriku. Sebenernya Ia bukan kakakku. Tapi kakak tiriku, namun ia udah kuliah di luar negri dan saat ini sedang liburan di Indonesia…
            “Tony, nggak. Cuma ingin merenung aja di sini… tenang banget di sini” aku beralasan. Dari dulu aku nggak pernah memanggilnya kakak, namun Ia tak pernah keberatan. Jika ada dia… perasaanku nyaman. Ia temanku sejak kecil, namun ketika dewasa Ia mendapatkan beasiswa ke luar negri jadi aku sendiri…
            “aku tau kamu ada masalah, ok boleh kutebak? Pasti bermasalah sama Ibu, khan?” ia tersenyum sambil menurunkan topi dinginnya ke bawah telinganya.
            Ia memang paling mengerti aku, “Cuma kamu ton yang nggak pernah marah ma aku, aku mau dikoskan. Mandiri… aku juga nggak ngerti apakah aku harus kerja sendiri atau gimana… yang jelas aku ngerasa Ibu tega banget membuang aku. Aku nggak bantuin Ibu ada alasannya, Tonn. Aku nulis… seperti cita-citaku ingin jadi penulis” aku terisak lagi, tonny meletakkan kepalaku di dadanya.
            Ia membelai kepalaku, “aku tahu, kamu udah jelasin ke Ibu?” ia masih mendekapku.
            “Ibu udah nuduh aku aneh-aneh, dikiranya aku pacaran. Aku nggak sempat menjelaskan Ibu udah pergi… apalagi Ibu ngungkit-ngungkit soal Ibuku. Aku begitu merindukannya Tonn… dan aku nggak mau dikoskan!! Aku nggak mau pisah ma Ayah… aku udah kehilangan Ibu sekarang aku kehilangan Ayah” aku menarik kepalaku dan menunduk.
            “Ini hanya masalah cara pandang, Lara. Coba kamu posisikan sebagai Ibu… kemudian kamu coba berfikir positif… masalahnya adalah kalian sama-sama tidak saling mengerti, Lara. Masa aku jauh-jauh datang dari Jerman kamu belum dewasa-dewasa juga? Ayo dong. Semangat…”
            “aku memang belum dewasa!!!, aku salah!!! Aku nakal!!!. Puas?! Puas semua orang udah mengatakan aku begitu?!” aku berdiri marah.
            “oke-oke, kalau begitu buktikan kalau kau udah dewasa, Lara. Buktikan bahwa kau benar dan tidak nakal… bisa?”
            Aku tertegun, “maksudmu?”

0 komentar: